Loading...

Selasa, 07 Juni 2011

Peranan Perempuan pada Usaha Ternak Sapi Perah di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali

RINGKASAN

ASHARI ARIFIN. H2D 006 008. 2011. Peranan Perempuan pada Usaha Ternak Sapi Perah di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali (The Role of Women in Dairy Cattle Farming in Ampel Sub-District, Boyolali Regency). (Pembimbing : MUKSON dan DYAH MARDININGSIH).
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus 2010 - 6 November 2010 di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Penelitian ini bertujuan: 1) mengetahui peranan perempuan dalam usaha beternak sapi perah berdasarkan kegiatan produktif; 2) mengetahui perilaku beternak perempuan; 3) mengetahui akses dan kontrol perempuan; 4) mengetahui needs assesment perempuan dalam usaha beternak sapi perah serta; 5) mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi peranan perempuan dalam menjalankan usahanya dalam beternak sapi perah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah perempuan peternak sapi perah, sedangkan data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil observasi dan wawancara secara mendalam dengan responden perempuan peternak sapi perah meliputi kegiatan produktif, perilaku beternak perempuan, akses dan kontrol, need assesment perempuan serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi peranan perempuan. Data sekunder diperoleh dari catatan Kantor Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Data diolah dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif dengan menggunakan statistik sederhana (jumlah, rata-rata, dan persentase).
Hasil penelitian menunjukan bahwa peranan perempuan pada usaha ternak sapi perah dapat dilihat dari serangkaian kegiatan produktif yang dilakukan antara lain kegiatan mencari hijauan, kegiatan memberi pakan dan memberi minum ternak, kegiatan membersihkan kandang, kegiatan memandikan ternak, dan kegiatan membeli sapronak. Sebagaian besar perilaku beternak perempuan sudah cukup baik. Akses perempuan paling tinggi terdapat pada sumber daya pemeliharaan ternak dan pengelolaan pendapatan, sedangkan rendah pada sumber daya pengajuan kredit dan penyuluhan ternak. Sementara untuk sumber daya penjualan dan pemasaran susu tidak terdapat akses. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perempuan di Kecamatan Ampel mempunyai peranan yang cukup tinggi dalam usaha beternak sapi perah serta memiliki fungsi ganda karena selain menjadi ibu rumah tangga dalam mengurus kegiatan rumah tangga sehari-harinya, perempuan juga harus membantu pekerjaan suaminya dalam beternak sapi perah guna menambah pendapatan keluarga.

Kata Kunci : perempuan, akses dan kontrol, need assesment, beternak sapi perah
KATA PENGANTAR


Pembangunan peternakan tidak terlepas dari peran aktif perempuan dalam menggunakan sumber daya dalam usaha peternakan itu sendiri. Peran perempuan dalam usaha ternak sapi perah berjalan seiring dengan peran yang disandangnya sebagai ibu rumah tangga. Berkenaan dengan hal tersebut, pengungkapan fakta-fakta secara kualitatif perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana peranan perempuan dalam usaha ternak sapi perah.
Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia serta limpahan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul : “Peranan Perempuan Pada Usaha Ternak Sapi Perah di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali” dengan lancar.
Ucapan terima kasih tidak lupa disampaikan kepada : Ir. Mukson, MS selaku pembimbing utama dan Ir. Dyah Mardiningsih, MS selaku pembimbing anggota atas arahan, motivasi, dan bimbingan beliau. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Dekan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Prof. Dr. Ir. V Priyo Bintoro, M.Agr beserta staf, Prof. Dr. Ir. Edy Rianto, M.Sc sebagai Ketua Jurusan Produksi Ternak, Ir. Djoko Sumarjono, MS sebagai Ketua Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan, dan kepada Ibu Migie Handayani, SPt., MSi sebagai dosen wali atas segala pengarahan yang telah diberikan, Pemerintah Kabupaten Boyolali beserta instansi yang terkait atas ijin penelitian yang diberikan. Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada para perempuan/istri peternak sapi perah di Kecamatan Ampel atas kerjasamanya, selama penelitian dan pengumpulan data lapang
Terima kasih penulis persembahkan kepada kedua orangtua tercinta dan keluarga atas cinta, kasih sayang, doa, dan motivasinya selama ini. Terima kasih juga kepada semua teman-teman Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan 2006 yang telah memberikan dukungan, bantuan dan doanya yang selalu diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penulis menyambut dengan tangan terbuka segala kritik dan saran guna perbaikan di masa mendatang. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.

Semarang, April 2011
Penulis





BAB I

PENDAHULUAN

Dalam pembangunan terdapat tiga unsur yang diperlukan yaitu sumber daya manusia, sumber daya alam dan modal sehingga dalam usaha mengembangkan peternakan selain dibutuhkan modal, bibit yang berkualitas unggul juga diperlukan peternak yang tangguh atau memiliki semangat tinggi dalam berusaha, tanggap terhadap permintaan pasar serta responsif terhadap masuknya teknologi baru yang diperkenalkan.
Pembangunan di bidang subsektor peternakan yang berbasis pada usaha peternakan rakyat terbukti tangguh dalam menghadapi krisis multidimensi yang dialami bangsa Indonesia beberapa tahun yang lalu. Salah satunya adalah usaha peternakan sapi perah rakyat. Dalam mengembangkan suatu usaha, peran dari sumber daya manusia memegang peranan yang sangat penting guna mencapai keberhasilan dari usaha beternak sapi perah.
Kecamatan Ampel merupakan salah satu sentra usaha peternakan sapi perah rakyat di Kabupaten Boyolali. Kecamatan Ampel merupakan satu dari enam kecamatan lain di Kabupaten Boyolali (5 Kecamatan lainnya adalah Kecamatan Selo, Kecamatan Musuk, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Boyolali, dan Kecamatan Mojosongo) yang merupakan sentra pengembangan sapi perah rakyat.
Sifat dari usaha peternakan rakyat yang berskala kecil dimana kebutuhan tenaga kerja diperoleh dari anggota keluarga, maka seorang perempuan yang berkedudukan sebagai istri peternak juga mempunyai peranan dalam usaha ternak sapi perah tersebut. Tenaga kerja untuk memelihara sapi perah mempergunakan tenaga kerja keluarga termasuk istri, suami, dan anak. Istri peternak menggunakan waktu luangnya dalam serangkaian perilaku kegiatan produktif dalam beternak sapi perah untuk membantu dan meringankan pekerjaan suaminya. Disinilah tergambar dengan jelas peranan ganda perempuan yaitu perempuan sebagai ibu rumah tangga yang sehari – hari melakukan kegiatan rumah tangga di dalam rumah dan perempuan sebagai rekan suami dalam mencari nafkah keluarga. Nurtini (1993) menjelaskan dalam penelitiannya bahwa bahkan sekarang ini perempuan Indonesia sudah ada yang berpartisipasi di sektor publik, sebagai gambaran partisipasi peran perempuan-perempuan di indonesia dapat diliat dari peran perempuan dalam legislatif, yudikatif, eksekutif, partai politik, dan birokrasi
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan perempuan dalam usaha beternak sapi perah secara umum berdasarkan kegiatan produktif yang dilakukan yaitu: kegiatan mencari hijauan, memberi makan ternak, memandikan ternak, membersihkan kandang, memerah susu, memasarkan susu, mengolah susu, mengobati ternak atau melaporkan ke mantri hewan jika ternak sakit, mengawinkan ternak, mengajukan kredit ternak, membeli bibit, dan membeli sapronak. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perilaku beternak perempuan dan mengetahui akses perempuan yang merupakan peluang perermpuan dalam memanfaatkan atau mempergunakan suatu sumber daya tanpa adanya kekuasaan untuk mengambil keputusan untuk mengambil keputusan mengenai penggunaan sumber daya tersebut serta mengetahui kontrol perempuan dalam penguasaan terhadap sumber daya atau wewenang untuk mengambil keputusan menggunakan sumber daya tersebut dalam usaha beternak sapi perah, kemudian mengetahui “needs assesment” perempuan pada usaha beternak sapi perah serta faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi peranan perempuan dalam menjalankan usahanya beternak sapi perah. Manfaat yang dapat diperoleh bagi penentu kebijakan adalah memperoleh informasi bahwa perempuan dalam hal ini istri peternak juga memiliki posisi yang sangat strategis dan mempunyai potensi dalam usaha ternak sapi perah, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan pembangunan peternakan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Usaha Ternak Sapi Perah

Usaha peternakan sapi perah di Indonesia dibagi menjadi dua macam, yaitu usaha peternakan rakyat dan perusahaan peternakan sapi perah. Usaha peternakan rakyat adalah usaha yang digunakan sebagai usaha sampingan yang memiliki sapi perah kurang dari 10 ekor sapi laktasi dewasa atau memiliki jumlah seluruh kurang dari 20 ekor sapi perah campuran. Sedangkan perusahaan peternakan sapi perah merupakan usaha peternakan sapi perah dengan tujuan komersial dengan produksi utama susu sapi yang memiliki 10 ekor sapi laktasi dewasa atau lebih atau memiliki jumlah keseluruhan 20 ekor sapi perah campuran atau lebih. Menurut Soekartawi et al.,(1984), usaha peternakan adalah segala kegiatan yang berhubungan dengan perkembangbiakan ternak untuk mendapatkan keuntungan sosial ekonomi.
Usaha peternakan sapi perah rakyat biasanya bersifat tradisional dan umumnya masih bersifat sambilan. Usaha peternakan sapi perah rakyat mempunyai ciri-ciri yaitu tingkat ketrampilan beternak yang rendah, modal usaha yang kecil, jumlah ternak produktif sedikit dan penggunaan pakan yang belum baik sehingga produksi susu yang dihasilkan rendah. Peternak juga menghadapi kendala kesediaan hijauan sepanjang tahun dan rendahnya harga susu ditingkat peternak sehingga sapi perah hanya sekedar dimiliki dan dipelihara petani tanpa memperhitungkan untung serta rugi (Suradisastra, 1978). Menurut pendapat Mukhtar (2006), usaha peternakan sapi perah memiliki kelebihan dibandingkan usaha ternak lain yaitu jenis usaha ternak sapi perah merupakan bisnis yang stabil karena produksi susu total dari tahun ke tahun tidak banyak berubah dan mempunyai jaminan penghasilan sepanjang tahun.
Pengembangan ternak sapi perah adalah usaha pengembangan peternakan yang memelihara sapi perah dengan hasil utama berupa susu sapi dan hasil lain seperti pembesaran pedet, penggemukan, disamping pembibitan dan pupuk kandang (Siregar, 1995). Menurut pendapat Sudono (1999), produk utama dari sapi perah adalah susu, sedangkan pedet, sapi afkir dan kotorannya merupakan hasil sampingan yang dapat dimanfaatkan.
Sapi perah yang dipelihara di Indonesia pada umumnya adalah sapi FH (Frisien Holstein) dan PFH (peranakan Frisien Holstein) yang mempunyai daya adaptasi di daerah dingin dengan suhu antara 15-21º C (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Ketinggian tempat yang ideal untuk peternakan sapi perah adalah sekurang-kurangnya 800 m di atas permukaan laut dengan suhu udara 18,3 oC dengan kelembaban 55% (Sutardi, 1981). Dijelaskan oleh Sudono (1984), untuk mendapatkan keuntungan yang optimal jumlah minimal sapi laktasi 60% dari jumlah seluruh sapi yang dipelihara. Ditambahkan pula oleh Direktorat Jenderal Peternakan (1990), bahwa batas lokasi perusahaan sapi perah hendaknya diberi pagar batas keliling yang rapat sekurang-kurangnya setinggi 1,75 m di atas tanah dan jarak dengan perusahaan sapi perah lainnya sebaiknya 250 m dan sekurangnya berjarak 50 m apabila merupakan suatu kelompok usaha atau koperasi sehingga pembinaan dan pengendalian kesehatan ternak bisa dilakukan bersama-sama.

2.2. Tata Laksana Pemeliharaan Sapi Perah

2.2.1. Bibit sapi perah

Bibit merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan. Sapi perah yang umumnya dipelihara di Indonesia adalah bangsa Friesian Holstein (FH) dan keturunannya yang disebut Peranakan Friesian Holstein (PFH) (Sutardi, 1981 dalam Marzuki, 2005). Sapi PFH mempunyai ciri-ciri fisik mirip sapi FH antara lain yaitu warna belang hitam putih, tanduk pendek yang menjurus ke depan, pada dahi terdapat warna putih yang berbentuk segitiga dan mempunyai sifat tenang dan jinak (Sudono, 2003).
Penilaian bibit sapi perah dapat dilakukan dengan mengamati secara eksterior yaitu bulu halus dan mengkilap, mata bersinar bebas dari cacat fisik, perut dalam lebar dan panjang, untuk mengetahui produksi susu dapat dilihat dari ambing yang besar, lunak dan lentur yang menunjukkan kelenjar susu aktif dan banyak jumlahnya, jumlah puting normal, dan vena susu yang menonjol (Blakely dan Bade, 1991). Bibit sapi perah untuk perusahaan peternakan sapi perah yang akan dipelihara adalah bibit yang baik dan berasal dari daerah atau peternakan yang bebas dari penyakit hewan menular (Direktorat Jenderal Peternakan, 1990). Ditambahkan pula oleh Direktorat Jenderal Peternakan (1990), ternak yang baru datang tidak boleh langsung dicampur dengan ternak yang sudah lama, tetapi dipelihara dulu di dalam kandang karantina sekurang-kurangnya selama 14 hari. Perusahaan peternakan tidak boleh melakukan usaha pembibitan.

2.2.2. Pakan dan minum

Menurut Blakely dan Blade (1991), pakan ternak sapi perah terdiri dari dua yaitu hijauan dan konsentrat sebagai bahan penguat. Sapi yang sedang laktasi biasanya membutuhkan ransum yang lebih banyak yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi yang digunakan untuk memproduksi susu. Hijauan dan konsentrat sebagai komponen ransum sapi perah merupakan sumber zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh sapi perah untuk berbagai fungsi tubuhnya. Agar zat-zat makanan yang dibutuhkan itu dapat terpenuhi, hijauan dan konsentrat dapat diformulasikan terlebih dahulu menjadi suatu ransum (Siregar, 1995). Dijelaskan lebih lanjut oleh Sudono (2003), bahwa pakan sapi perah menjadi faktor utama yang dapat mempengaruhi produksi dan kualitas susu. Pemberian pakan harus sesuai dengan bobot badan sapi, kadar lemak susu, dan produksi susunya.
Menurut Sutardi (1981), salah satu faktor yang menentukan berhasilnya peternakan sapi perah yaitu pemberian pakan. Pakan sangat penting dan memegang peranan yang sangat dominan dalam dunia peternakan, karena salah satu usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan produksi susu adalah melalui pemberian pakan yang baik. Lebih lanjut dijelaskan bahwa penyusunan ransum yang sesuai dengan kebutuhan sapi, pertimbangan harga pakan serta tersedianya bahan pakan perlu diperhatikan dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pakan.
Pakan sapi perah digolongkan menjadi dua macam yaitu hijauan dan konsentrat, dimana bahwa tingkat penggunaan hijauan pada sapi perah lebih besar daripada tingkat pemenuhan konsentrat (Siregar, 1995). Dijelaskan lebih lanjut oleh (Siregar, 1995), hijauan dan konsentrat sebagai komponen ransum sapi perah merupakan sumber zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh sapi perah untuk berbagai fungsi tubuhnya. Agar zat-zat makanan yang dibutuhkan itu dapat terpenuhi, hijauan dan konsentrat dapat diformulasikan terlebih dahulu menjadi suatu ransum.
Kebutuhan sapi perah akan zat makanan di dasarkan pada: 1) Kebutuhan akan Bahan Kering (BK); 2) Kebutuhan akan energi; 3) Kebutuhan akan Protein Kasar (PK); 4) Kebutuhan akan Kalsium (Ca) dan Fosfor (P); dan 5) Kebutuhan akan vitamin A (Sutardi, 1981). Menurut Lubis (1992), BK tersusun atas karbohidrat, protein, lemak dan mineral, yang besarnya untuk seekor sapi adalah 1 - 3% atau rata-rata 2% dari bobot badan sapi. Satuan energi dinyatakan dalam Total Digestible Nutrien (TDN) yaitu jumlah zat makanan yang dapat dicerna.
Pemberian pakan harus dilakukan seefisien mungkin, karena 70 - 80% biaya produksi adalah untuk pemberian pakan (Syarief dan Sumoprastowo, 1984). Proporsi pemberian konsentrat yang baik adalah 10% dari bobot badan atau 2,3 - 4 kg/ekor/hari, sedangkan pemberian hijauan untuk sapi perah laktasi sebanyak 20 - 60 kg/ekor/hari. Pemberian konsentrat pada sapi perah harus diperhatikan kondisi, umur, bangsa, jenis kelamin dan jenis pakan yang diberikan (Sudono, 1984). Hijauan yang diberikan dalam formula ransum sebanyak 2% bahan kering pada sapi perah. Untuk mencapai produksi susu yang tinggi dengan kadar lemak yang yang normal, maka perbandingan konsentrat dan hijauan dalam ransum sapi perah adalah 60 - 40 (Siregar, 1995). Sutardi (1981) menambahkan bahwa perbandingan antara pakan hijauan dan konsentrat dalam ransum sapi perah yang sedang berproduksi susu 60 : 40 (berat kering) akan mencapai produksi susu yang tinggi dengan tetap mempertahankan kadar lemak susu dalam batas-batas normal. Apabila hijauan yang diberikan berkualitas rendah perbandingan dapat bergeser menjadi 55 : 45, sedangkan bila hijauan yang diberikan berkualitas sedang sampai tinggi, perbandingan bergeser menjadi 64 : 36. Pemberian pakan sebaiknya didahulukan konsentrat terlebih dahulu sebelum hijauan sehingga dapat merangsang mikroba rumen, dan konsentrat sebaiknya diberikan sebelum pemerahan agar mikroba dalam rumen dapat memanfaatkan karbohidrat dapat dicerna. Sedangkan pemberian pakan hijauan dilakukan setelah pemerahan, hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu mutu susu. Pemberian air minum sapi perah sebaiknya dilakukan secara “ad libitum” karena tidak akan menimbulkan efek negatif bahkan dapat meningkatkan produksi susu.
Menurut Lubis (1992), untuk mendapatkan produksi susu secara efisien maka di dalam pemberian pakan haruslah: 1) Kadar protein dari pakan relatif tinggi yaitu mengandung serat kasar antara 13 - 70%; 2) Kadar lemak dalam jumlah minimal yaitu kurang dari 6% ransum; 3) Ransum mempunyai TDN dan energi yang tinggi; 4) cukup mengandung Ca dan P sebesar 15 - 20 gram setiap 100 Kg bobot badan sapi dan mineral-mineral lain; 5) Dapat mensuplai vitamin A dan D, vitamin-vitamin yang tidak dapat diberikan dalam ransum secara bebas; 6) mempunyai palatabilitas tinggi.

2.2.3. Perkandangan

Perkandangan merupakan kompleks tempat tinggal ternak dan pengelola yang digunakan untuk melakukan kegiatan proses produksi dari sebagian atau seluruh kehidupannya dengan segala fasilitas dan peralatannya. Kandang adalah sebuah tempat tinggal ternak untuk melakukan kegiatan produksi dan reproduksi dari sebagian atau seluruh kehidupannya (Soedarmono, 1993). Ditambahkan oleh Sudono (1984), bahwa pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran, dan perlengkapan kandang.
Berdasarkan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1990), kandang merupakan tempat tinggal sapi yang memberikan keamanan dari gangguan binatang lain maupun gangguan alam, misalnya hujan, angin dan udara dingin dan merupakan salah satu sarana penting yang langsung maupun tidak langsung setiap saat turut menentukan keberhasilan usaha ternak sapi perah. Menurut Siregar (1995), kandang yang baik digunakan di Indonesia adalah kandang konvensional dengan tipe satu baris atau dua baris. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (1990), konstruksi kandang hendaknya dapat memenuhi daya tampung, antara lain untuk luas lantai kandang sekurang-kurangnya 2 x 1,5 m2 tiap ekor sapi dewasa, tidak termasuk jalur jalan dan selokan. Lantai kandang miring ± 5o ke arah saluran pembuangan sehingga mudah dibersihkan dan disucihamakan. Ditambahkan pula oleh Syarief dan Sumoprastowo (1990), beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembangunan kandang adalah cahaya matahari dapat secara langsung ataupun tidak langsung menerangi kandang, ventilasi udara perlu diperhatikan agar dapat terjadi pertukaran udara yang lancar, letak kandang hendaknya di bawah tempat sumber air dan parit yang di buat untuk memudahkan pengaliran kotoran dari kandang.

2.2.4. Kesehatan ternak

Kesehatan ternak juga merupakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu usaha peternakan sapi perah, oleh karena itu pencegahan penyakit perlu dilakukan guna menghindari resiko kerugian. Penyakit pada sapi perah akan dapat menimbulkan kerugian ekonomis yang tidak sedikit, yaitu berupa penurunan produksi susu, terlambatnya pertumbuhan sapi muda dan kematian serta akan mempertinggi biaya produksi. (Siregar, 1995). Ditambahkan pula bahwa penyakit yang dapat menyerang sapi perah antara lain adalah masitis, kembung, penyakit mulut dan kuku serta antraks. Penyakit khususnya pada sapi perah akan dapat menimbulkan kerugian ekonomis yang tidak sedikit berupa penurunan produksi, terlambatnya pertumbuhan sapi muda dan kematian (Siregar, 1995). Tindakan yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan ternak, menjaga kebersihan kandang dan mengadakan vaksinasi untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit (Syarief dan Sumopratowo, 1984).
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut menurut Direktorat Jenderal Peternakan (1990), antara lain dengan melakukan desinfeksi peralatan, penyemprotan hama, pembersihan perkandangan, menjaga agar tidak semua orang dapat keluar masuk perkandangan yang memungkinkan dapat menularkan penyakit serta menjaga lokasi peternakan agar tidak mudah dimasuki binatang lain yang membawa penyakit. Menurut Soedarmono (1993), kandang setiap hari harus dibersihkan dari kotoran. Umumnya kotoran berasal dari sisa pakan yang bercampur kotoran sapi itu sendiri. Sanitasi ternak dilakukan dengan memandikan sapi perah. Tubuh sapi dimandikan karena umumnya mudah kotor akibat kotoran sapi itu sendiri atau berupa daki yang terdiri dari timbunan debu dan keringat. Sanitasi dilakukan setiap hari agar sapi senantiasa bersih dan bebas dari kotoran sehingga susu yang diperoleh tidak rusak dan tercemar.

2.2.5. Pengelolaan reproduksi

Pengelolaan reproduksi merupakan faktor yang penting karena untuk mengetahui apakah sapi betina dapat beranak setiap tahunnya. Untuk itu dilakukan pengaturan perkawinan sapi perah untuk menentukan jumlah sapi laktasi setiap tahunnya (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Program perkawinan sapi perah yang baik akan dapat meningkatkan produksi susu. Sapi dara dapat dikawinkan setelah mencapai dewasa tubuh dengan umur sekitar 17 bulan (Ensminger, 1971). Dijelaskan lebih lanjut oleh Siregar (1995), bahwa sapi mulai memproduksi susu sesaat setelah melahirkan, oleh karena itu setelah melahirkan sapi perah harus segera dikawinkan kembali, sapi perah paling baik mulai dikawinkan kembali 50 hari setelah melahirkan dan paling lambat 85 hari setelah melahirkan. Sedang menurut Siregar (1995), bahwa setelah sapi beranak sapi dapat dikawinkan lagi setelah 2-3 bulan. Periode ini disebut dengan “service periode” dengan tujuan memberi kesempatan agar sistem reproduksi dapat normal kembali. Sudono (1999), menambahkan bahwa ketepatan program perkawinan selanjutnya akan sangat menentukan besar kecilnya produksi susu. Kegagalan program perkawinan akan menyebabkan “calving interval” menjadi terlalu panjang. Calving interval yang ideal berkisar antara 12-14 bulan dengan “service periode” yang baik antara 75-94 hari.
Menurut Sudono (1999), terdapat dua metode perkawinan yaitu perkawinan secara alami dan secara buatan (Inseminasi Buatan). Keuntungan perkawinan secara buatan adalah “Conception Rate” tinggi, menghemat biaya dan tempat untuk pengadaan dan pemeliharaan pejantan. Selain itu penggunaan IB memungkinkan peningkatan potensi untuk mendapatkan bibit unggul sebagai suatu cara perbaikan mutu genetik ternak dan perkawinan melalui IB lebih efisien karena mempunyai tingkat kebuntingan yang relatif lebih tinggi dari kawin alami, serta dari segi ekonomi lebih menguntungkan karena relatif murah biayanya.

2.2.6. Penanganan pasca panen dan pemasaran

Penanganan pasca panen adalah suatu usaha atau penanganan pada awal pemanenan, penanganan, dan penjualan (Direktorat Jenderal Peternakan, 1992). Menurut Sudono (1999), kegiatan pasca produksi merupakan suatu kegiatan yang dimulai sejak ternak itu dijual dan kegiatan tersebut masih berada di lingkungan peternakan. Tujuan dari kegiatan pasca produksi adalah mengelola hasil produksi agar kualitas yang terbaik dapat diperoleh.
Pengelolaan pasca panen yang baik dapat dilihat dari proses pemerahan. Proses pemerahan yang baik harus menunjukkan beberapa ciri, yaitu pemerahan dilakukan dengan interval yang teratur, cepat, dikerjakan dengan kelembutan, pemerahan dilakukan sampai tuntas, menggunakan prosedur sanitasi dan efisien dalam penggunaan tenaga kerja. Apabila beberapa ciri tersebut selalu dipenuhi, maka akan menghasilkan produksi yang tinggi, daya tahan hidup sapi lebih lama dan diperoleh keuntungan yang lebih baik (Direktorat Jenderal Peternakan, 1990). Menurut Sudono et al. (2003), dalam manajemen pemerahan, pemerahan dilakukan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Namun jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25 liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari. Jarak pemerahan dapat menentukan jumlah susu yang dihasilkan. Jika jaraknya sama yakni 12 jam, jumlah susu yang di hasilkan pada waktu pagi dan sore akan sama. Namun jika jarak pemerahan tidak sama, jumlah susu yang dihasilkan pada sore hari lebih sedikit daripada susu yang dihasilkan pada pagi hari. Pemerahan yang baik dilakukan dengan benar dan alat yang bersih. Tahapan-tahapan pemerahan harus dilakukan dengan benar agar sapi tetap sehat dan terhindar dari penyakit yang dapat menurunkan produksinya. Menurut Muljana (2006), dalam manajemen pemerahan, bahwa jarak pemerahan yang teratur dan seimbang akan memberikan produksi susu yang lebih baik dari pada jadwal yang tidak teratur dan seimbang.
Susu segar yang di hasilkan harus segera ditangani dengan cepat dan benar. Hal ini disebabkan karena sifat susu yang sangat mudah rusak dan terkontaminasi. Penanganan susu segar agar dapat terjual dengan kualitas baik dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu peralatan yang digunakan untuk menampung susu segar, baik berupa ember perah maupun milk can harus dalam keadaan bersih dan kering, jika peralatan bersih, umur susu segar bisa mencapai 3 jam, setelah itu susu akan rusak atau asam. Sebelum dimasukkan dalam milk can susu disaring terlebih dahulu agar bulu sapi dan veseline yang tercampur dengan susu tidak terbawa masuk dalam wadah. Melakukan pendinginan susu dengan suhu 4ºC agar lebih tahan lama, jika suhu lebih dari 4ºC, bakteri mudah berkembang biak. Limbah sapi dapat berupa kotoran atau feses dan air seni. Pengolahan limbah sapi menjadi kompos jika dilakukan dengan benar akan menjadi sumber penghasilan tambahan (Sudono et al., 2003).
Pemasaran merupakan suatu proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya. Pemasaran juga didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan berpindahnya barang dan produsen pertama ke konsumen terakhir (Amstrong, 1994).

2.2.7. Manajemen usaha

Manajemen usaha adalah serangkaian proses kegiatan pemeliharaan yang berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan. Pencatatan yang cermat dan teliti terhadap segala sesuatu yang dialami dalam kegiatan usaha peternakan sangat penting. Data hasil pencatatan tersebut harus dievaluasi untuk mengadakan penilaian terhadap perkembangan usaha ternaknya. Pemeliharaan ternak juga perlu memperhitungkan berbagai biaya apa saja yang dikeluarkan selama proses reproduksi, penggemukan dan perawatan untuk menentukan harga jual hasil produksi. Hai ini bertujuan agar petani ternak memperoleh keuntungan yang optimal (Sudono, 1999). Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (1990), manajemen usaha adalah serangkaian proses kegiatan pemeliharaan yang berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan
Manajemen pencatatan atau recording akan menjadi aspek yang hampir selalu menjadi acuan segala kegiatan yang berlangsung. Pencatatan menjadi mutlak dilakukan karena mempunyai fungsi sebagai data berharga untuk merencanakan suatu kegiatan usaha, menilai perkembangan suatu usaha, menentukan kebijaksanaan dan tata laksana yang harus diambil serta untuk mengerjakan yang harus dilaksanakan selanjutnya sebagai tindak lanjut keberhasilan suatu usaha selalu dapat dipantau dan dievaluasi (Sudono, 1999).

2.2.8. Produksi susu

Sapi perah yang dipelihara di Indonesia pada umumnya adalah bangsa FH (Frisien Holstein) dan PFH (Peranakan Friesian Holstein). Sapi-sapi tersebut sebagian didatangkan dari Australia dan New Zealand (Sudono, 1999). Menurut Sitorus et al.,(1980), sapi perah yang ada di Indonesia mampu berproduksi susu sekitar 1500–2000 liter per laktasi. Menurut Sudono (1984), kemampuan berproduksi susu sapi perah Friesian Holstein dan peranakannya berkisar antara 1800-2000 kg/laktasi dengan panjang laktasi rata-rata 9,5 bulan. Sapi perah impor di Jawa Tengah berproduksi susu rata-rata 8,84 liter per ekor per hari dan sapi perah lokal (PFH) berproduksi rata-rata 7,35 liter per ekor per hari (Dirjen Peternakan, 1990).
Menurut Sutardi (1981), kemampuan produksi susu sapi perah di dataran tinggi lebih baik dibandingkan dengan yang dipelihara di daerah dataran rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu yaitu : 1) faktor genetis); 2) pakan; 3) manajemen pemeliharaan yang baik yang meliputi rangsangan pemerahan, lama kering kandang, pencegahan penyakit, frekuensi pemerahan, service periode dan calving interval; 4) kebuntingan; 5) jaringan sekresi; 6) faktor alam; 7) faktor lain seperti umur, besar tubuh dan estrus. Sutardi (1981) menyatakan bahwa masa produktif sapi perah kurang lebih selama 10 tahun dan dalam kurun waktu 10 tahun sapi perah dapat beranak sekurang-kurangnya 7 kali. Periode laktasi yang ke-4 dan ke-5 merupakan masa laktasi yang maksimal. Kemampuan berproduksi sapi perah selalu meningkat sampai tubuh mencapai umur 6-8 tahun dan produksi susu akan mengalami penurunan setelah laktasi ke-8 (Syarief dan Sumoprastowo,1984).
Masa laktasi merupakan waktu dari setelah melahirkan atau sampai memproduksi susu. Periode laktasi adalah periode dimana sapi sedang menghasilkan susu antara waktu setelah beranak sampai dengan masa kering. Lama laktasi yang paling ideal adalah 305 hari atau sekitar 10 bulan. Sapi perah yang laktasinya lebih singkat atau lebih panjang dari 10 bulan akan berakibat pada produksi susu pada laktasi berikutnya (Siregar, 1995).
Produksi susu mengalami siklus tertentu yaitu mengalami kenaikan pada sesudah awal melahirkan dengan puncak produksi pada minggu ke-5 sampai minggu ke-12 dan mengalami penurunan produksi susu pada minggu ke-16 sampai siklus laktasi kurang lebih 305 hari (Tillman et al.,1991). Menurut Siregar (1995), dari sejak melahirkan, produksi susu akan meningkat dengan cepat sampai mencapai puncak produksi pada 35-50 hari setelah melahirkan, setelah mencapai puncak produksi, produksi susu harian akan mengalami penurunan rata-rata 2,5% per minggu.
Menurut Prihadi (1996), dari produksi selama 1 periode laktasi telah dihasilkan perbandingan produksi susu dari bulan ke- 1 sampai bulan ke-10 dan apabila total produksi dinyatakan dalam 100%, maka dari bulan ke-1 sampai bulan ke-10 masing-masing adalah 11,13,13,12,11,10,9,8,7 dan 6%. Angka-angka perbandingan produksi bulanan selama 1 periode laktasi dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan total produksi selama 1 periode laktasi.
Sapi perah dapat memproduksi susu selama satu periode “calving interval” memerlukan waktu istirahat (masa kering) selama 6-8 minggu sebelum melahirkan kembali. Pengeringan ini bertujuan untuk mempertahankan produksi susu berikutnya, memelihara kelenjar susu, memelihara perkembangan foetus, dan menjaga kondisi tubuh untuk masa laktasi berikutnya (Siregar, 1995). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemerahan pada sapi perah memiliki tujuan untuk mendapatkan susu yang maksimal dari ambing sapi perah. Sapi perah yang memiliki produksi susu tinggi (>25 liter per hari) dapat diperah tiga kali sehari, sedangkan sapi perah yang memiliki produksi susu sedang dapat diperah dua kali sehari.

2.3. Perilaku Perempuan Peternak

Perilaku merupakan segala tindakan yang dilaksanakan oleh seseorang dalam menghadapi situasi yang secara umum dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu pengetahuan, sikap, ketrampilan (Mardikanto, 1993). Suhardiyono (1992), menyatakan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian sasaran ingin dicapai berupa peningkatan pengetahuan, kterampilan, dan sikap petani, sehingga mereka akan mampu untuk mandiri, karena tanpa adanya penambahan pengetahuan dan ketrampilan serta perbaikan sikap, akan sulit untuk memperbaiki kehidupan mereka yang masih tradisional.

2.3.1. Pengetahuan

Mardikanto (1993), mengemukakan bahwa pengetahuan berkaitan erat dengan kemampuan pikiran, yaitu segala sesuatu yang diketahui atau akan diketahui berkenaan dengan sesuatu hal yang mencakup perubahan dari apa yang telah diketahui yang sifatnya kurang menguntungkan menjadi lebih baik dan menguntungkan. Kurangnya pengetahuan tentang sapta usaha beternak dikalangan petani ternak merupakan faktor penyebab rendahnya tingkat produktivitas dan keterbatasan kemampuan untuk menemukan suatu inovasi baru. Semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang sapta usaha beternak maka semakin mudah menerapkan adopsi inovasi baru.
Menurut Rogers dan Shoemaker (1987), ada tiga tipe pengetahuan dalam tahap pengenalan inovasi, yaitu : 1) kesadaran atau pengetahuan mengenai adanya inovasi; 2) pengetahuan teknis; dan 3) pengetahuan prinsip. Tipe yang pertama yakni kesadaran atau pengetahuan akan adanya inovasi adalah sebagai peristiwa yang tak disengaja maupun dari hasil prakarsa seseorang dan bukan kegiatan yang pasif. Umumnya seseorang cenderung membuka diri terhadap ide yang sesuai dengan minat, kebutuhan, dan sikap yang ada padanya. Pengetahuan teknis tipe kedua meliputi informasi yang diperlukan mengenai cara pemakaian atau penggunaan suatu inovasi. Tipe pengetahuan yang ketiga adalah berkenaan dengan prinsip berfungsinya suatu inovasi. Seseorang dalam mengadopsi inovasi bias tidak menggunakan pengetahuan prinsip tetapi kemampuan seseorang untuk meramal kegunaan inovasi dalam jangka panjang lebih mudah jika pengadopsian dilengkapi pengetahuan prinsip.

2.3.2. Sikap

Sikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata dan perbuatan yang terjadi. Sikap merupakan faktor dalam diri manusia yang dapat mendorong untuk menimbulkan perbuatan atau tingkah laku petani ternak terhadap inovasi atau teknologi dalam suatu bidang dalam hal ini bidang peternakan (Mardikanto, 1993).
Menurut Rogers dan Shoemaker (1987), ada dua tingkatan sikap yaitu sikap khusus terhadap inovasi dan sikap umum terhadap perubahan. Sikap khusus terhadap inovasi adalah berkenaan dengan percaya atau tidaknya seseorang terhadap kegunaan suatu inovasi bagi dirinya sendiri. Sikap umum terhadap perubahan adalah sikap positif terhadap perubahan untuk selalu mempengaruhi diri, terbuka pada hal baru dan giat dalam mencari informasi. Mosher (1991), mengatakan hampir semua petani ternak hidup dengan kebiasaan yang telah lama mereka lakukan melalui suatu cara tertentu dan terpaku dengan cara tersebut dari tahun ke tahun, sehingga petani ternak selalu merasa sering mempergunakan sikap mentalnya sendiri sebagai pendorong dalam menentukan persepsi pribadinya.

2.3.3. Ketrampilan

Levis (1996), mengemukakan bahwa ketrampilan adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas baik secara perorangan maupun kelompok. Ketrampilan ini biasanya diperoleh dengan pengalaman bekerja dan cenderung lebih membutuhkan kemempuan fisik. Menurut Mardikanto (1993,) semakin lama pengalaman beternak atau melakukan usaha lain maka akan cenderung semakin mudah petani ternak dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan proses produksi ternaknya. Bertambahnya tingkat ketrampilan menyebabkan petani ternak lebih dinamis, aktif, dan terbuka dalam mengadopsi sesuatu yang baru. Apabila petani ternak memiliki ketrampilan yang cukup dan terdapat suatu inovasi baru di bidang peternakan, maka petani ternak tersebut akan mudah mengadopsi inovasi baru.
Menurut Mosher (1991), umumnya di dalam pertanian tidak terdapat spesialisasi pekerjaan. Setiap orang harus memiliki berbagai ketrampilan sehingga dengan bertambah tingkat ketrampilan diharapkan petani ternak lebih aktif dan dinamis serta terbuka dalam mengadopsi teknologi baru.

2.4. Akses dan Kontrol

Akses merupakan peluang untuk memanfaatkan atau mempergunakan suatu sumber daya tanpa adanya kekuasaan untuk mengambil keputusan mengenai penggunaan sumber daya tersebut. Kontrol merupakan penguasaan terhadap sumber daya atau wewenang untuk mengambil keputusan menggunakan sumber daya tersebut (Peebles, 1996).
Akses dan kontrol merinci sumber–sumber apa yang dikuasai pria dan perempuan untuk melaksanakan kegiatannya, dan manfaat apa yang diperoleh setiap orang dari kegiatan tersebut. Profil akses dan kontrol merupakan kunci yang menentukan kedudukan sosial budaya, ekonomi dan politik seseorang dalam masyarakat.
Berkaitan dengan akses dan kontrol ada dua hal yang penting mendapat perhatian yaitu pertama adalah essensial untuk membedakan akses dan kontrol. Akses terhadap sumber belum tentu meliputi penguasaan atau kontrol atas sumber tersebut, karena akses dapat ditentukan oleh orang lain, sedangkan kontrol mengandung arti bahwa seseorang yang mengontrol itulah yang merupakan kekuatan yang menentukan. Kedua, yang juga essensial adalah untuk membedakan antara akses dan kontrol terhadap penggunaan sumber pada satu pihak dengan yang lainnya yaitu akses dan kontrol terhadap manfaat yang diperoleh terhadap dari pengerahan sumber–sumber pada lain pihak (Peebles, 1996).
Sajogyo (1996), menyebutkan bahwa sesuai dengan pola hubungan masing–masing pelaku dalam rumah tangganya dan dalam masyarakat yang lebih luas, wanita dan pria dapat mempunyai posisi dan peranan yang berbeda dalam proses pengambilan keputusan. Pengambil keputusan di bidang produksi misalnya tidak selalu mutlak dilakukan oleh pria saja atau wanita saja, padahal sebenarnya dalam hal ini wanitapun mempunyai peran yang setara.

2.5. Need Assesment

Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada, seringkali disebut dengan atau kondisi nyata. Analisis kebutuhan sebagai suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas lalu memilih hal yang penting untuk diselesaikan masalahnya. (Anderson et al., 2003.)
Need Assesment dapat diterapkan dalam individu, kelompok atau lembaga (institusi). Mengenai kesenjangan pada need itu sendiri dapat berhubungan dengan dua hal yaitu: 1) Ukuran objektif yaitu membandingkan antara tingkat penampilan hasil pengukuran dengan tingkat penampilan yang dipertimbangkan untuk diterima; 2) Ukuran subjektif yaitu membandingkan antara tingkat penampilan hasil pengukuran dengan pertimbangan kebutuhan di suatu daerah. (Efendi, 2009)
Klasifikasi need assesment adalah: 1) felt needs; 2) expressed needs; 3) normative needs; 4) comparative needs; 5) individual versus organization or group needs; 5) Clinical versus administrative needs; 6) Subjective versus objective measured needs; 7) Inferred needs; 8) Verbalized needs and interest:informal comments, formal surveys, etc; 9) Proven needs; 10) System or population needs ( Davis, 2010)

2.6. Peranan Perempuan di Sektor Domestik dan Publik

Pembedaan peran sosial laki-laki dan perempuan seringkali mencari pembenaran melalui perbedaan biologis laki-laki dan perempuan. Secara biologis laki-laki dan perempuan memiliki alat dan fungsi reproduksi yang berbeda, perbedaan ini melahirkan perbedaan peran laki-laki dan perempuan. Karena perempuan hamil, melahirkan dan menyusui (reproduksi biologis), maka perempuan dipandang sudah seharusnya bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak (reproduksi sosial) dan selanjutnya melebar ke seluruh hal di lingkup domestik, sementara laki-laki dipandang sebagai pihak yang bertanggung jawab “menanggung” perempuan dan anak-anak, sehingga tempat laki-laki di sektor publik (Indraswari, 2000). Ditambahkan pula oleh Indraswari (2000), perempuan bekerja mencari nafkah karena tuntutan ekonomi lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. Sejarah menunjukkan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berbeda pada strata menengah ke bawah.
Menurut Indraswari (2000), di pedesaan, perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian, sementara diperkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. Di luar konteks desa-kota, sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukkan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49,2%, diikuti oleh sektor perdagangan 20,6%, dan sektor industri manufaktur 14,2% .

2.7. Peranan Perempuan dalam Usaha Tani

Perempuan di desa mempunyai peran ganda yaitu sebagai ibu rumah tangga dan pasangan untuk mencari nafkah bagi keluarga. Perempuan oleh program–program pemerintah seperti PKK (Peningkatan Kesejahteraan Keluarga) dan PPKSS (Peningkatan Perempuan kearah Keluarga Sehat dan Sejahtera) dituntut juga untuk berperan sebagai warga negara dan warga masyarakat. Peran ganda itu akhirnya menjadi multi peran yaitu sebagai masyarakat, ibu rumah tangga dan pekerja (Mubyarto dan Basuki, 1992).
Perempuan berperan dalam kegiatan usaha tani (tanaman pangan, peternakan, dan perikanan) dalam bentuk curahan waktu kerja maupun pengambilan keputusan. Semakin maju dan berkembangnya sektor peternakan, tenaga kerja perempuan menjadi penting dan mutlak kehadirannya. Selain pemakaian tenaga kerja tidak begitu berat juga tidak menyita waktu terlalu banyak sepanjang hari, perempuan dapat mengerjakan dalam lingkungan rumah tangga tanpa harus meninggalkan kegiatan rumah sebagai ibu rumah tangga (Dwidjatmiko dan Santoso, 1993).


BAB III

METODE PENELITIAN


3.1. Kerangka Pemikiran

Usaha ternak sapi perah rakyat di Indonesia kebanyakan bersifat tradisional dan berorientasi sebagai usaha sampingan saja serta merupakan simpanan kekayaan yang sewaktu-waktu dapat cepat dijual. Umumnya petani memelihara sapi perah untuk mengisi waktu luangnya dan sumber tenaga kerja berasal dari keluarganya sendiri. Peternak sapi perah rakyat di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali juga mempunyai orientasi yang sama dengan peternak rakyat pada umumnya. Peternak ingin meningkatkan pendapatan keluarga dengan ikut serta dalam usaha beternak sapi perah meskipun hasilnya tidak terlalu besar.
Suatu usaha keluarga petani dalam hal ini usaha beternak sapi perah yang dianggap sebagai usaha sambilan, maka perempuan hal ini istri dituntut ikut serta dalam usaha beternak, karena suami mempunyai pekerjaan pokok sendiri yaitu sebagai petani. Perempuan ikut dalam kegiatan produktif dalam beternak sapi perah disamping tugas utama perempuannya sebagai ibu rumah tangga. Oleh sebab itu perlu diketahui bagaimana peran perempuan dalam usaha beternak sapi perah, perilaku beternak perempuan, akses dan kontrolnya dalam penggunaan sumber dalam usaha beternak sapi perah, need assesment perempuan, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat perempuan dalam usaha beternak sapi perah.

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – Oktober di Kelurahan Kembang Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Alasan Kecamatan Ampel digunakan sebagai lokasi penelitian adalah Kecamatan Ampel merupakan satu diantara lima kecamatan lain di Kabupaten Boyolali (lima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Selo, Kecamataan Cepogo, Kecamatan Musuk, Kecamataan Boyolali, dan Kecamatan Mojosongo) yang merupakan daerah sentra produksi susu di Kabupaten Boyolali. Alasan lain adalah karena di Kecamatan Ampel terdapat banyak perempuan yang ikut membantu suaminya dalam kegiatan beternak sapi perah dan di Kecamatan Ampel memiliki jumlah penduduk perempuan terbanyak di Kabupaten Boyolali.

3.3. Metode Pengambilan Sampel

Pengambilan sampling memakai metode ”Purposive Sampling” berdasarkan pertimbangan tertentu. Beberapa pertimbangan yang dimaksud adalah 1) Jumlah peternak sapi perah khususnya istri peternak yang terlibat dalam kegiatan usaha beternak sapi perah cukup banyak; 2) Memiliki jumlah ternak sapi perah minimal 2 ekor. Jumlah sampel adalah 30 orang perempuan/istri peternak sapi perah.

3.4. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survei. Metode penelitian survei adalah suatu metode penelitian dengan pengamatan yang kritis sehingga mendapatkan informasi yang baik langsung dari responden. Survei adalah suatu studi ekstensif yang dipolakan untuk memperoleh informasi-informasi yang dibutuhkan dimana peneliti mengambil sampel dari salah satu populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun et al.,1995).

3.5. Metode Pengumpulan Data

Penggunaan metode yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah metode observasi dan wawancara. Observasi adalah suatu kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi yang dilakukan meliputi observasi mengenai tata laksana pemeliharaan sapi perah serta kegiatan produktif yang dilakukan oleh subjek peneliti. Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan, jadi wawancara secara mendalam adalah suatu wawancara terhadap subyek guna memperoleh keterangan yang selengkap-lengkapnya atau secara mendalam mengenai suatu permasalahan serta bersifat personal atau area sensitive dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang sudah disusun sebelumnya.
Wawancara yang dilakukan adalah wawancara secara langsung dan mendalam dengan berpedoman kuesioner untuk mendapatkan data. Data yang diperlukan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden yang terdiri dari identitas responden yang meliputi nama perempuan/istri peternak, nama suami, umur, mata pencaharian suami dan istri, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, pengalaman beternak, skala usaha/jumlah kepimilikan ternak. Data primer lainnya yang perlu diketahui meliputi kegiatan produktif perempuan dalam usaha beternak sapi perah, perilaku beternak perempuan, akses dan kontrol perempuan, faktor-faktor yang mempengaruhinya serta needs assesment, yaitu data kebutuhan dari perempuan didalam usaha beternak sapi perah.
Selain itu juga perlu diketahui mengenai curahan waktu kerjanya, lokasi kegiatan produktif tersebut dan bagaimana cara melakukan kegiatan produktif tersebut. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait seperti : jumlah penduduk, luas wilayah (monografi daerah) dan tingkat pendidikan.

3.6. Metode Analisis Data

Model analisis yang digunakan di dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif dengan menggunakan statistik sederhana (jumlah, rata-rata, dan persentase). Menurut Arikunto (1998), penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotetis. Metode diskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Pengertian penelitian kualitatif dikemukakan oleh Moleong (2002) sebagai suatu penelitian yang memiliki latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan. Berdasarkan penjelasan tersebut maka analisis deskriptif kualitatif merupakan pemaparan fakta-fakta di lapangan sesuai dengan latar alamiahnya dengan tanpa menentukan hipotesis penelitian sebelumnya.
Secara teknis, data yang diperoleh ditabulasi, diberi kode (coding) untuk mengetahui sumber asal satuan, jenis responden lokasi ataupun cara pengumpulan data (Moleong, 2002). Lebih lanjut diterangkan, reduksi data perlu dilakukan guna merangkum banyaknya informasi yang diperoleh untuk selanjutnya dilakukan penafsiran data.
Analisis kuantitatif dengan menggunakan statistik sederhana meliputi penjumlahan, rata-rata, dan persentase digunakan untuk menganalisa jenis kegiatan produktif perempuan dan perilaku beternak perempuan berdasarkan tingkat pengetahuan, sikap, dan ketrampilan untuk kemudian data yang diperoleh ditabulasi, diskor, kemudian dipersentase.

3.7. Batas Pengertian dan Konsep Pengukuran

1. Perempuan petani peternak adalah seseorang perempuan tani ternak yang mencurahkan sebagian waktu kerjanya untuk memelihara sapi perah.
2. Peranan perempuan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan seorang perempuan petani peternak dan istri peternak yang mencurahkan waktu kerjanya untuk memelihara sapi perah.
3. Curahan waktu kerja adalah waktu yang dipergunakan untuk melakukan suatu kegiatan dihitung dalam menit/hari.
4. Sapi perah adalah jenis ternak ruminansia besar yang dipelihara untuk menghasilkan susu.
5. Perilaku adalah segala tindakan yang dilaksanakan oleh seseorang dalam menghadapi situasi yang secara umum dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Kriteria penilaian menggunakan 5 kategori, yaitu: Sangat Kurang, Kurang, Cukup, Baik, dan Sangat Baik.
Jumlah total pertanyaan perilaku berjumlah 84 pertanyaan.
6. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang mencakup perubahan dari apa yang telah diketahui yang sifatnya kurang menguntungkan menjadi lebih baik. Kriteria penilaian menggunakan 5 kategori, yaitu: Sangat Kurang, Kurang, Cukup, Baik, dan Sangat Baik.
Jumlah pertanyaan pengetahuan berjumlah 28 pertanyaan.
7. Sikap adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu rangsang. Kriteria penilaian menggunakan 5 kategori, yaitu: Sangat Kurang, Kurang, Cukup, Baik, dan Sangat Baik.
Jumlah pertanyaan sikap berjumlah 28 pertanyaan.
8. Ketrampilan adalah teknis melakukan sesuatu yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Kriteria penilaian menggunakan 5 kategori, yaitu: Sangat Kurang, Kurang, Cukup, Baik, dan Sangat Baik.
Jumlah pertanyaan ketrampilan berjumlah 28 pertanyaan .
9. Akses adalah peluang untuk memanfaatkan atau mempergunakan suatu sumber daya tanpa adanya kekuasaan untuk mengambil keputusan mengenai penggunaan sumber daya tersebut. Kriteria penilaian yaitu menggunakan: Tinggi (T) dan Rendah (R)
10. Kontrol adalah penguasaan terhadap sumber daya dalam kegiatan usaha sapi perah atau wewenang untuk mengambil keputusan dalam penggunaan sumber daya dalam kegiatan usaha sapi perah tersebut. Kriteria penilaian yaitu menggunakan: Tinggi (T) dan Rendah (R)
11. Needs Assesment adalah pengkajian data-data kebutuhan dari perempuan peternak berkaitan dengan usaha ternak sapi perah.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian

Kecamatan Ampel merupakan salah satu dari 19 kecamatan lain yang terdapat di Kabupaten Boyolali. Dari 19 kecamatan tersebut, hanya enam kecamatan yang terdapat populasi ternak sapi perah yaitu Kecamatan Ampel, Kecamatan Selo, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Musuk, Kecamatan Boyolali, dan Kecamatan Mojosongo, sementara belasan kecamatan lainnya lebih berpotensi dalam usaha ternak sapi potong. Kecamatan Ampel berbatasan dengan Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang di sebelah utara, bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Kaliwungu dan Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang, bagian barat berbatasan dengan Gunung Merbabu dan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, dan berbatasan dengan Kecamatan Selo, Kecamatan Cepogo, dan Kecamatan Boyolali di sebelah selatan. Kecamatan Ampel terdiri dari 20 Desa, 358 Dukuh, 149 RW, dan 539 RT. Adapun luas wilayahnya seluas 9.391 Ha terdiri dari 6237,17 Ha tanah sawah, 7039,46 tanah kering, dan tanah hutan 1171,43 Ha.
Kecamatan Ampel memiliki ketinggian 1100 m di atas permukaan laut, mempunyai suhu maksimum 30ºC dan suhu minimum 26ºC, dengan curah hujan 2517 mm/th dan jumlah hari dengan curah hujan terbanyak sebesar 102 hari. Bentuk wilayah Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali adalah daerah berbukit sampai dengan bergunung sebesar 30%, daerah berombak sampai dengan berbukit 15%, dan daerah datar sampai dengan berombak 55%. Keadaan daerah seperti ini sangat cocok digunakan sebagai usaha dalam beternak sapi perah sebab menurut Siregar (1995) sapi perah dapat berproduksi secara optimal pada suhu 18 - 21ºC.

4.2. Keadaan Umum Penduduk Kecamatan Ampel

Jumlah penduduk di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali pada tahun 2009 adalah sebanyak 78.364 jiwa dan tersebar di 19 desa. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 38.061 jiwa dengan presentase 48,6% dan perempuan sebanyak 40.303 jiwa dengan presentase 51,4%. Disini terlihat bahwa penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan dengan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Penduduk di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali Tahun
2009 ( Data Monografi Kecamatan Ampel, 2009).

Jenis kelamin Total Persentase
----Jiwa---- ----%----
Laki-laki 38.061 48,6
Perempuan 40.303 51,4
Jumlah 78.364 100,0

4.2.1. Mata pencaharian penduduk Kecamatan Ampel

Jumlah penduduk Kecamatan Ampel menurut pekerjaannya terlihat pada Tabel 2, penduduk yang bekerja di sektor pertanian yaitu sebagai petani dan peternak menduduki peringkat tertinggi dengan presentase sebesar 34,59% dan 48,54%. Sedangkan mata pencaharian lain yang banyak dikerjakan oleh penduduk Kecamatan Ampel dapat dilihat secara lengkap pada Tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2. Mata Pencaharian Penduduk di Kecamatan Ampel Kabupaten
Boyolali Tahun 2009 (Data Monografi Kecamatan Ampel, 2009).

No Mata Pencaharian Total Persentase
---jiwa--- -----%----
1 PNS 1.121 2,57
2 ABRI 110 0,25
3 Pedagang 973 2,23
4 Pensiunan ABRI/PNS 325 0,74
5 Pengusaha Sedang/Besar 451 1,03
6 Buruh Bangunan 2.020 2.047
7 Buruh Industri 165 4,63
8 Buruh Perkebunan 4,70 0,38
9 Petani 15.064 34,5
11 Pengangkutan
Peternak 74
21.193 0,17
48,54
Jumlah 43.543 100,00


4.2.2. Tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Ampel


Tingkat pendidikan formal seseorang manusia akan mempengaruhi setiap teknologi baru yang berkaitan dengan usaha pengembangan beternak sapi perah.
Rendahnya tingkat pendidikan akan berakibat pada cara berpikir sederhana sehingga dapat menghambat teknologi baru yang akan diperkenalkan. Tingkat pendidikan yang ada di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali berdasarkan data tahun 2009 sebagian besar hanya tamat sekolah dasar yaitu sebesar 32.619 jiwa atau dengan presentase sebesar 44,40%, sedangkan yang tamat sarjana hanya sebanyak 205 jiwa atau 0,27 %. Secara terperinci dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut:
Tabel 3. Tingkat Pendidikan Penduduk di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali Tahun 2009 (Data Monografi Kecamatan Ampel, 2009).

No Pendidikan Jumlah Persentase
---jiwa--- ---%----
1 Tidak Tamat Sekolah Dasar 31.579 42,99
2 Tamat SD/Sederajat 32.619 44,40
3 Tamat SLTP/Sederajat 5.967 8,12
4 Tamat SLTA/Sederajat 2.864 3,89
5 Tamat Akademi/Sederajat 225 0,30
6 Tamat Perguruan Tinggi/Sederajat 205 0,27
Jumlah 73.459 100,00


Tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Ampel masih tergolong rendah, hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah penduduk yang tidak tamat sekolah dasar dan tamat SD/sederajat atau sebesar 87,39% dibandingkan dengan penduduk yang menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi. Hal seperti ini akan berpengaruh pada keberhasilan usaha dibidang peternakan khususnya peternakan sapi perah, karena tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi baru.

4.3. Populasi Ternak di Kecamatan Ampel

Populasi ternak di Kecamatan Ampel dapat dilihat pada Tabel 4. Ternak Sapi merupakan ternak besar dengan populasi terbanyak apabila dibandingkan dengan ternak besar lainnya seperti ternak kerbau maupun kuda. Sementara itu ternak kambing merupakan populasi terbanyak diantara ternak kecil lainnya. Ternak sapi banyak dipelihara penduduk Kecamatan Ampel dikarenakan keadaan daerah yang sangat cocok digunakan sebagai usaha beternak sapi khususnya sapi perah. Beternak sapi bagi mereka merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka, karena beternak sapi merupakan usaha turun temurun dari keluarga atau orang tua mereka dulu. Selain itu, mereka beranggapan bahwa dengan beternak sapi akan dapat dijadikan tabungan jangka panjang dan sewaktu waktu bisa digunakan apabila ada kebutuhan yang sangat mendesak. Penyebaran ternak sapi potong maupun ternak sapi perah cukup merata, hampir setiap dukuh dalam desa pasti terdapat penduduk yang memelihara ternak sapi, entah itu ternak sapi potong atau ternak sapi perah. Hal ini didukung dengan adanya Pasar Ampel yang merupakan pasar hewan di sekitar wilayah Kecamatan Ampel dan Pasar Sunggingan yang merupakan pasar hewan terbesar di Jawa Tengah yang terletak di pusat Kota Boyolali sehingga mempermudah para penduduk untuk membeli bibit sapi bakalan atau indukan yang baik apabila ingin terjun dalam usaha beternak sapi.




Tabel 4. Populasi Ternak di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali Tahun 2009 (Data Monografi Kecamatan Ampel, 2009).


No Jenis Ternak Jumlah Peternak Jumlah Ternak
---jiwa--- ---ekor---
1 Sapi Perah/Sapi Potong 3.810 9.876
2 Kerbau 20 70
3 Kambing 1.634 8472
4 Domba 1.517 4695
5 Kuda,Babi 5 81
6
7
8 Ayam
Itik
Jenis Ternak Lain 13.763
434
16 171.060
3.905
45.530


4.4. Identitas Responden

Identitas responden meliputi nama istri peternak, nama suami, umur, mata pencaharian suami & istri, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, pengalaman beternak, skala usaha/jumlah kepemilikan ternak, dan produksi susu ternak dalam liter. Responden dalam penelitian ini adalah para perempuan/istri peternak di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali dengan pertimbangan perempuan/istri peternak ikut aktif dalam kegiatan usaha beternak sapi perah dan memiliki setidaknya dua ekor sapi laktasi. Identitas Responden dapat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut:

Tabel 5. Identitas Responden di Kecamatan Ampel.

No Identitas Responden Total Persentase
---orang--- ---%---
1 Usia (tahun)
a.Usia produktif:
- 19-35 8 26,66
- 36-60
b.Usia Tidak produktif: 20 66,66

- >60 2 6,66
Total 30 100,00
2 Tingkat Pendidikan
a. Tamat SD/Sederajat 15 50,00
b. Tamat SLTP/Sederajat 8 26,66
c. Tamat SLTA/Sederajat 6 20,00
d. Tamat Sarjana
Total 1
30 3,33
100,00
3 Mata Pencaharian Pokok Responden
a. Pertanian 27 90,00
b. Non Pertanian 3 10,00
- Guru 1 3,33
- Pedagang 1 3,33
- Buruh
Total 1
30 3,33
100,00
4 Pengalaman Beternak (tahun)
a. < 5 7 23,33
b. 5-10 8 26,66
c. >10 15 50
Total 30 100,00

Berdasarkan data tersebut, para perempuan/istri peternak di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali sebagian besar berusia antara 36-60 tahun. Usia tersebut dikategorikan ke dalam usia yang produktif, kenyataan ini sangat berpengaruh pada produktivitas peternak yang akhirnya akan mendukung perkembangan usaha dalam beternak sapi perah atau dapat diartikan bahwa tenaga kerja yang produktif akan lebih mampu mencurahkan tenaganya secara optimal pada usaha yang dijalankan. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa kesempatan untuk memgembangkan usaha dalam beternak sapi perah terbuka lebar karena kemampuan fisik, pola berpikir, maupun ketika dalam bekerja masih dalam kondisi yang bagus. Sedangkan pada responden yang bukan merupakan usia produktif, apabila dilihat dari segi usia memang mengalami penurunan dalam produktifitas kerjanya, namun masih kuat memelihara sapi karena kondisi fisiknya masih kuat walaupun tidak melakukan semua kegiatan produktif dalam usaha beternak sapi perah. Hal ini sesuai dengan pendapat Hernanto (1989), bahwa umur 0 -15 tahun merupakan umur belum produktif, umur 15 - 60 tahun merupakan usia produktif, serta umur di atas 60 tahun merupakan umur tidak produktif.
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap kinerja peternak yang berkaitan dengan pola pikir dalam pemeliharaan ternak sapi perah, karena rendahnya tingkat pendidikan akan menghambat penyerapan inovasi yang diberikan. Berdasarkan Tabel 5 sebagian besar responden berpendidikan SD yaitu sebanyak 15 orang (50%), berpendidikan SLTP berjumlah 8 orang (26,66%), berpendidikan SLTA berjumlah 7 orang (20%), dan hanya satu orang saja yang berpendidikan sebagai Sarjana. Dari hasil wawancara yang dilakukan, perempuan/istri peternak yang tingkat pendidikannya rendah terlihat kurang mengerti dan tidak jelas mengenai pertanyaan pertanyaan yang diajukan, sehingga ini akan menghambat perempuan dalam penyerapan terhadap inovasi baru apabila suatu saat dikenalkan. Hal ini dikarenakan perempuan/istri peternak merupakan peternak tradisional yang sederhana, dimana dapat dikatakan pola pemikiran mereka juga masih sangat sederhana. Bahkan terdapat pula beberapa diantara mereka yang tidak dapat membaca sehingga harus dipandu dalam sesi tanya jawab pertanyaan, dan sebagian responden tidak fasih berbahasa Indonesia sehingga dalam kegiatan wawancara mereka sering menggunakan bahasa daerah.

“…kulo niki buta huruf mas, dadi mboten saget maos”. (Giyarti, 50 tahun)

(…saya ini buta huruf mas, jadi tidak bisa membaca…)


Sementara itu perempuan yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi terlihat lebih antusias dalam menerima hal baru dan lebih banyak mengetahui informasi-informasi dalam beternak sapi perah yang baik. Hal ini menunjukkan kurangnya tingkat pengetahuan dan ketrampilan di dalam pemeliharaan ternak sapi perah. Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap pola pikir serta kemampuan seseorang dalam mengelola suatu usaha serta dapat mengubah dan menerima setiap perubahan yang ada serta bagaimana menerapkannya. Pendidikan formal secara langsung maupun tidak langsung sangat berpengaruh terhadap kinerja peternak berkaitan dengan pola pemikiran dan sistem kerja. Dengan Tingkat pendidikan yang relatif tinggi, maka akan lebih mudah untuk dapat menerima inovasi dan teknik-teknik dalam mengelola sapi perah sehingga dapat menghasilkan produksi susu yang tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman beternak sapi perah setiap responden bervariasi dan sudah cukup lama yaitu lebih dari 10 tahun. Responden pada umumnya beternak sapi karena mereka pada awalnya merupakan keluarga peternak. Dahulu orang tua mereka pada umumnya memelihara sapi sehingga secara tidak langsung mereka bergelut dalam usaha beternak sapi ataupun mereka mengikuti suami mereka karena suami mereka merupakan peternak. Tercatat terdapat dua responden yang berusia 65 tahun dan telah memelihara sapi sejak mereka kecil. Mereka mendapatkan pengetahuan tentang cara beternak sapi secara otodidak dengan hanya memperhatikan dan mengamati apa saja yang dilakukan orang tua mereka dulu ketika memiliki sapi atau hanya memperhatikan apa saja yang terjadi di lingkungan sekitar mereka, misalnya apa yang dilakukan dalam memelihara sapi. Lamanya responden dalam menjalankan usaha ternak sapi perah akan berpengaruh pada tingkat ketrampilan di dalam mengelola manajemen usahanya ternak sapi perah.

4.5. Teknis Pemeliharan (Zooteknis)

4.5.1. Bibit sapi perah

Jenis sapi perah yang dipelihara oleh responden di Kecamatan Ampel pada umumnya sapi perah jenis peranakan Friesian Holstein (PFH). Terdapat juga beberapa peternak yang memelihara sapi Friesian Holstein (FH) asli dari Australia yang dibeli dari Pasar Ampel.. Bahkan ada juga peternak yang memelihara sapi perah dan sapi potong dalam satu kandang. Bibit sapi tersebut umumnya dibeli dari pasar Sunggingan di pusat Kota Boyolali. Sapi PFH yang dimiliki memiliki ciri-ciri : kulit berwarna belang-belang hitam putih, ekor berwarna putih serta bersifat tenang dan jinak. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudono (2003), sapi PFH mempunyai ciri-ciri fisik mirip sapi FH antara lain yaitu warna belang hitam putih, tanduk pendek yang menjurus ke depan, pada dahi terdapat warna putih yang berbentuk segitiga dan mempunyai sifat tenang dan jinak. Sapi perah yang dimiliki responden berbulu halus dan mengkilap, mata bersinar, ambing yang besar dan lentur serta menghasilkan susu yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991), bahwa penilaian bibit sapi perah dapat dilakukan dengan mengamati secara eksterior yaitu bulu halus dan mengkilap, mata bersinar bebas dari cacat fisik, perut dalam lebar dan panjang, untuk mengetahui produksi susu dapat dilihat dari ambing yang besar, lunak dan lentur yang menunjukkan kelenjar susu aktif dan banyak jumlahnya, jumlah puting normal, dan vena susu yang menonjol.
Kepemilikan sapi perah di daerah penelitian di Kecamatan Ampel biasanya adalah milik pribadi. Hal ini dikarenakan dengan memelihara sapi perah akan ada yang dihasilkan setiap hari yaitu produksi susunya. Dengan begitu mereka akan mendapatkan pendapatan setiap harinya dari menjual susu. Sebagaian responden bercerita apabila mereka cuma mengharapkan hasil pertanian tidaklah akan mencukupi kebutuhan keluarga, maka usaha beternak sapi perah inilah usaha sampingan yang bisa diharapkan hasilnya untuk menambah perekonomian keluarga.
Hasil yang didapatkan dari usaha beternak sapi perah memang tidaklah besar tetapi cukup untuk kebutuhan makan keluarga setiap harinya. Hal ini dikarenakan harga susu yang rendah yaitu sekitar Rp.2.300,00/liter sementara harga konsentrat adalah Rp.2000,00. Harga susu sendiri ditentukan oleh pasar, sehingga peternak tidak dapat menentukan harga susu dengan sendirinya. Disamping itu, harga susu juga dipengaruhi oleh kualitas susu itu sendiri, karena apabila kualitas susu buruk misalnya warna tidak putih pekat dan terlalu encer maka harga susu dipastikan akan turun drastis. Bisa dibayangkan pendapatan peternak sapi perah setiap harinya. Apabila rata-rata produksi susu tiap hari dibawah 5 liter dan jumlah kepemilikan sapi laktasi sekitar 2 ekor maka dapat diketahui bahwa pendapatan peternak sapi perah tiap harinya paling tidak akan mendapatkan Rp.20.000,00. Hal ini dirasa sangat menguntungkan sekali untuk peternak, karena hasil utama yaitu susu, didapatkan pula hasil sampingan berupa pedet, sapi afkir dan kotorannya yang dapat dimanfaatkan. Jelaslah apabila usaha peternakan sapi perah memiliki kelebihan dibandingkan usaha ternak lain yaitu jenis usaha ternak sapi perah merupakan bisnis yang stabil karena produksi susu total dari tahun ke tahun tidak banyak berubah dan mempunyai jaminan penghasilan sepanjang tahun.

4.5.2. Pakan

Secara umum pakan yang diberikan oleh responden di daerah penelitian berupa rumput dan konsentrat dan pemberiannya harus disesuaikan dengan bobot badan, status produksi dan status kesehatan sapi karena pakan akan sangat berpengaruh terhadap produksi dan kualitas susu nantinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudono (2003), bahwa pakan pada sapi perah menjadi faktor utama yang dapat mempengaruhi produksi dan kualitas susu. Pemberian pakan harus sesuai dengan bobot badan sapi, kadar lemak susu, dan produksi susunya. Ketersediaan hijaun di daerah penelitian cukup melimpah karena kondisi alam yang sejuk dan curah hujan yang tinggi sehingga tidak perlu takut akan kekurangan hijauan. Pakan yang diberikan peternak pada umumnya berupa rumput gajah, konsentrat, dan singkong. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991), yang menyatakan bahwa sapi perah tergolong ruminansia, sehingga ransum sapi perah sebaiknya terdiri dari hijauan leguminosa dan rumput yang berkualitas baik (bahan pakan kasar) serta dengan konsentrat (bahan pakan penguat) yang berkualitas tinggi. Jumlah hijaun yang diberikan oleh peternak di daerah penelitian tidak diperhitungkan terlebih dahulu karena pemberian hijauan hanya berdasarkan perkiraan peternak saja. Misalkan satu ikat rumput gajah dengan berat kira-kira 40–50 kg. Apabila dibandingkan dengan kebutuhan hijauan sebesar 10% dari bobot badan sapi, maka untuk sapi perah dengan bobot badan sekitar 400 kg sudah dapat memenuhi kebutuhan, namun kandungan dan kebutuhan yang sebenarnya harus diperhatikan lagi, karena tidak semua bahan pakan yang diberikan kualitasnya bagus. Sementara itu pemberian konsentrat sangat diperlukan untuk mencukupi kebutuhan gizi ternak yang tidak cukup apabila hanya dipenuhi oleh pakan hijauan. Jenis konsentrat yang diberikan umumnya berupa bekatul. Konsentrat yang diberikan ternak biasanya dibeli dari Pasar Ampel dengan komposisi bahan terdiri dari bekatul, dedak, dan jagung. Sama seperti pemberian pakan hijaun, pemberian konsentrat tidak diperhitungkan terlebih dahulu karena pemberian konsentrat hanya berdasarkan perkiraan peternak saja. Konsentrat diberikan terbatas pada ternak, karena sebagian peternak tidak mengerti bagaimana sebaiknya takaran pemberian konsentrat yang baik untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak dalam sehari. Bahkan tidak sedikit pula peternak yang tidak memberikan konsentrat untuk pakan ternaknya. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki biaya untuk membeli konsentrat.

“…ya jarang konsentrat, nggak beli orang nggak punya uang. Cuma dikasih singkong sama air. Ya kalo punya uang ? kalo nggak punya uang gimana ? darimana ?...” (Suti, 65 tahun).


Waktu pemberian pakan sapi perah di daerah penelitian pada umumnya dua kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari. Terdapat juga satu-dua orang peternak yang memberi makan ternaknya tiga kali plus malam hari. Konsentrat yang dicampur dengan air (komboran) diberikan sebelum diperah pada pagi pukul 05.00 WIB. Kemudian pada siang hari diberikan komboran ditambahkan singkong. Hijauan diberikan pada pagi pukul 09.00 WIB dan sore hari pukul 16.00 WIB setelah pemerahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (1991), bahwa pemberian konsentrat sebelum hijauan bertujuan untuk merangsang mikroba rumen, dan konsentrat sebaiknya diberikan sebelum pemerahan agar mikroba dalam rumen dapat memanfaatkan karbohidrat dapat dicerna. Sedangkan pemberian pakan hijauan dilakukan setelah pemerahan, hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu mutu susu.
Pemberian air minum tidak dilakukan secara ad libitum sebab peternak hanya memberikan air dalam bentuk komboran konsentrat pada waktu sebelum pemerahan. Hal ini kurang sesuai dengan pendapat Sudono (2003) bahwa pemberian air minum sapi perah sebaiknya dilakukan secara “ad libitum” karena tidak akan menimbulkan efek negatif bahkan dapat meningkatkan produksi susu.

4.5.3. Perkandangan

Bangunan kandang sapi perah di daerah penelitian pada umumnya tertutup sehingga sinar matahari sulit masuk ke dalam kandang. Atap kandang terbuat dari genting sehingga sirkulasi udara kurang memadai. Kandang terletak menempel dibelakang rumah dan ada pula yang terletak disamping rumah pemiliknya, dinding kandang terbuat dari papan dan ada juga yang sudah permanen terbuat dari tembok. Sementara itu tempat pakan dan minum masih dari ember plastik dan terdapat juga tempat pakan yang semi permanen terbuat dari kayu yang dirangkai menjadi suatu kotak yang cukup lebar. Lantai kandang terbuat dari semen tanpa memperhatikan pembuangan limbah. Bahkan terdapat juga lantai yang masih berupa tanah. Lantai yang berupa tanah tersebut dapat menyebabkan lantai kandang menjadi becek ketika ternak membuang kotoran sehingga sanitasi kandang kurang baik. Hal ini diantisipasi oleh peternak dengan memberi alas pada lantai yang becek dengan menggunakan jerami. Hal ini kurang sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1990), beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembangunan kandang adalah cahaya matahari dapat secara langsung ataupun tidak langsung menerangi kandang, ventilasi udara perlu diperhatikan agar dapat terjadi pertukaran udara yang lancar, letak kandang hendaknya di bawah tempat sumber air dan parit yang di buat untuk memudahkan pengaliran kotoran dari kandang.

4.5.4. Kesehatan ternak

Kesehatan ternak merupakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu usaha peternakan sapi perah, oleh karena itu tindakan pencegahan penyakit perlu dilakukan guna menghindari resiko kerugian. Upaya yang dilakukan responden pada umumnya di daerah penelitian untuk pencegahan penyakit tersebut hanyalah dengan membersihkan kandang. Sanitasi kandang dilakukan setiap hari pada pagi hari sebelum pemerahan dengan cara membersihkan kandang dari kotoran yang berasal dari feses sapi maupun sisa pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Soedarmono (1993), bahwa kandang setiap hari harus dibersihkan dari kotoran. Umumnya kotoran berasal dari sisa pakan yang bercampur kotoran sapi itu sendiri.
Tindakan lainnya dalam upaya pencegahan penyakit adalah dengan memandikan ternak. Memandikan ternak jarang sekali dilakukan oleh peternak. Ternak pada umumnya tidak dimandikan sebelum pemerahan, sebab peternak memegang prinsip jika dimandikan akan menyebabkan masuk angin, sehingga kegiatan memandikan ternak hanya dilakukan 1-2 kali dalam seminggu. Terdapat juga peternak yang hanya memandikan ternaknya setiap satu bulan sekali, itupun kalau sudah terlihat kotor sekali, akan tetapi apabila ternak belum begitu kotor ternak belum akan dimandikan. Hal ini tidak sesuai dengan Soedarmono (1993), bahwa sanitasi ternak dilakukan dengan memandikan sapi perah. Tubuh sapi dimandikan karena umumnya mudah kotor akibat kotoran sapi itu sendiri atau berupa daki yang terdiri dari timbunan debu dan keringat. Sanitasi dilakukan setiap hari agar sapi senantiasa bersih dan bebas dari kotoran sehingga susu yang diperoleh tidak rusak dan tercemar.
Penyakit yang sering menyerang ternak sapi perah berdasarkan wawancara di lokasi penelitian pada umumnya adalah kembung dan cacingan. Untuk mengobatinya umumnya peternak memanggil mantri hewan. Mereka tidak sanggup mengobati ternaknya sendiri apabila sedang sakit. Bahkan terdapat pula peternak yang bercerita, suatu kali ternak mereka sakit, sehingga mereka kebingungan dan ketakutan apabila terjadi apa-apa dengan ternak mereka apabila tidak segera diobati karena akan berpengaruh pada produksi susu sehingga buru-buru menghubungi mantri hewan. Biaya untuk pengobatan oleh mantri hewan adalah Rp.50.000,00 untuk sekali suntikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1995), bahwa penyakit yang dapat menyerang sapi perah antara lain adalah masitis, kembung, penyakit mulut dan kuku serta antraks. Penyakit khususnya pada sapi perah akan dapat menimbulkan kerugian ekonomis yang tidak sedikit berupa penurunan produksi, terlambatnya pertumbuhan sapi muda dan kematian.

4.5.5. Pengelolaan reproduksi

Perkawinan sapi perah pada responden di lokasi penelitian umumnya dilakukan secara IB oleh mantri hewan, cara ini dianggap sebagai cara paling efektif dan efisien baik dari segi biaya, waktu maupun tenaga. Selain biaya yang dikeluarkan cukup terjangkau, bibit yang diperoleh juga cenderung lebih unggul dari perkawinan alami. Tetapi terdapat pula beberapa peternak yang mengeluh bahwa terkadang perkawinan buatan menggunakan IB tidak selalu 100% berhasil, karena kenyataanya mereka harus sampai mengulnng sampai tiga kali suntikan inseminasi. Ini dirasa sangat merugikan karena merika menilai sudah membayar tetapi tidak menghasilkan apapun. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudono (1999), bahwa keuntungan perkawinan secara buatan adalah “Conception Rate” tinggi, menghemat biaya dan tempat untuk pengadaan dan pemeliharaan pejantan. Selain itu penggunaan IB memungkinkan peningkatan potensi untuk mendapatkan bibit unggul sebagai suatu cara perbaikan mutu genetik ternak dan perkawinan melalui IB lebih efisien karena mempunyai tingkat kebuntingan yang relatif lebih tinggi dari kawin alami, serta dari segi ekonomi lebih mengguntungkan karena relatif murah biayanya.

4.5.6. Penanganan pasca panen dan pemasaran

Penanganan pasca panen adalah suatu usaha atau penanganan pada awal pemanenan, penanganan, dan penjualan. Kegiatan pasca produksi merupakan suatu kegiatan yang dimulai sejak ternak itu dijual dan kegiatan tersebut masih berada di lingkungan peternakan. Tujuan dari kegiatan pasca produksi adalah mengelola hasil produksi agar kualitas yang terbaik dapat diperoleh (Dirjen Peternakan, 1992).
Kualitas susu selain dipengaruhi oleh manajemen perkandangan, lingkungan kesehatan sapi, pakan dan genetik juga dipengaruhi oleh cara pemerahan dan pengelolaan pasca panen. Pengelolaan pasca panen di lokasi penelitian yang cenderung dilakukan hanyalah pemerahan. Kualitas susu bisa bervariasi karena penanganannya (handling) pun berbeda-beda. Secara umum kualitas susu yang dihasilkan peternak masih rendah. Hal ini dikarenakan pemerahan susu tidak dilakukan oleh peternak itu sendiri melainkan dilakukan oleh petugas pemerah/loper susu yang datang langsung ke rumah masing-masing peternak. Pemerahan yang dilakukan oleh loper susu tersebut terkesan asal-asalan. Beberapa peternak mengeluhkan sikap petugas loper susu ketika memerah susu ternak mereka, karena tidak mengikuti kaidah/tata cara pemerahan yang baik. Terkadang pemerahan yang dilakukan oleh petugas loper susu tersebut hanya datang ke kandang dan tinggal memerah saja tanpa membersihkan ambing ternak terlebih dahulu. Pengelolaan pasca panen yang baik dapat dilihat dari proses pemerahan. Proses pemerahan yang baik harus menunjukkan beberapa ciri, yaitu pemerahan dilakukan dengan interval yang teratur, cepat, dikerjakan dengan kelembutan, pemerahan dilakukan sampai tuntas, menggunakan prosedur sanitasi dan efisien dalam penggunaan tenaga kerja. Apabila beberapa ciri tersebut selalu dipenuhi, maka akan menghasilkan produksi yang tinggi, daya tahan hidup sapi lebih lama dan diperoleh keuntungan yang lebih baik (Direktorat Jenderal Peternakan, 1990).
Pengolahan limbah atau kotoran ternak dilokasi penelitian sudah baik. Umumnya responden mengumpulkan kotoran ternak dalam satu tempat kemudian dikeringkan dan digunakan sebagai pupuk untuk menyuburkan lahan pertanian dan lahan hijauan. Hal ini sesuai pendapat Sudono et al.,(2003), bahwa limbah sapi dapat berupa kotoran atau feses dan air seni. Pengolahan limbah sapi menjadi kompos jika dilakukan dengan benar akan menjadi sumber penghasilan tambahan.

4.5.7. Manajemen usaha

Manajemen usaha yang dilakukan responden dilokasi penilitian kurang begitu baik. Responden tidak begitu mementingkan recording atau pencatatan. Menurut responden untuk usaha yang skalanya kecil tidak perlu adanya pencatatan semua aspek usaha. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Santosa (2001), bahwa manajemen pencatatan atau recording akan menjadi aspek yang hampir selalu menjadi acuan segala kegiatan yang berlangsung. Pencatatan menjadi mutlak dilakukan karena mempunyai fungsi sebagai data berharga untuk merencanakan suatu kegiatan usaha, menilai perkembangan suatu usaha, menentukan kebijaksanaan dan tata laksana yang harus diambil serta untuk mengerjakan yang harus dilaksanakan selanjutnya sebagai tindak lanjut keberhasilan suatu usaha selalu dapat dipantau dan dievaluasi

4.6. Peranan Perempuan pada Usaha Ternak Sapi Perah

Peranan perempuan pada usaha ternak sapi perah di Kecamatan Ampel cukup besar pada kegiatan produktif pemeliharaan sapi perah. Kegiatan produktif tersebut antara lain kegiatan mencari rumput, memberikan pakan dan minum, membersihkan kandang, memandikan ternak, memerah susu, memasarkan susu, mengolah produk susu, membeli sapronak, mengobati ternak, dan mengawinkan ternak. Tetapi dari beberapa kegiatan produktif tersebut yang sering dilakukan oleh perempuan sebagian besar adalah kegiatan mencari rumput, kegiatan memberikan pakan dan minum, serta kegiatan membersihkan kandang. Sedangkan untuk kegiatan lain cenderung dilakukan oleh suami mereka atau dilakukan oleh anak mereka dan biasanya untuk beberapa kegiatan lain seperti memerah susu, mengobati ternak, dan mengawinkan ternak terdapat petugas tersendiri diluar keluarga di sekitar lingkungan desa mereka. Kegiatan memerah susu misalnya dilakukan oleh petugas loper susu. Petugas loper susu ini jugalah yang bertugas mengirim susu dari peternak ke KUD. Sementara untuk kegiatan dalam kesehatan ternak dan reproduksi seperti pengobatan penyakit ternak dan kegiatan mengawinkan ternak dilakukan oleh petugas mantri hewan. Peternak langsung menghubungi mantri hewan apabila diketahui ternak milik mereka sedang sakit.
Peranan perempuan dalam menjalankan peran mereka dalam usaha beternak sapi perah berjalan beriringan dengan peran mereka di bidang reproduktif yang berupa tugas rumah tangga. Perempuan bersedia melakukan kegiatan produktif pada usaha ternak sapi perah dengan berbagai alasan antara lain untuk mengisi waktu luang, membantu beban suami dan tujuan utama adalah untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

4.6.1. Kegiatan produktif perempuan pada usaha ternak sapi perah

Kegiatan yang dilakukan perempuan dalam usaha beternak sapi perah hampir sebagian adalah sama antara satu perempuan dengan perempuan lainnya. Kegiatan yang seringkali dilakukan perempuan-perempuan istri petani peternak tersebut diantaranya adalah kegiatan mencari hijauan rumput, kegiatan memberi pakan dan minum, kegiatan membersihkan kandang, serta kegiatan memandikan ternak. Sementara itu untuk kegiatan yang lain cenderung dilakukan oleh suami mereka sendiri dan biasanya untuk beberapa kegiatan lain seperti memerah susu, mengobati ternak, dan mengawinkan ternak terdapat petugas tersendiri diluar keluarga yaitu loper susu dan mantri hewan di sekitar lingkungan desa mereka. Pencurahan waktu kerja yang diberikanpun berbeda-beda sesuai dengan jenis kegiatan produktif yang dilakukan dikarenakan tidak semua perempuan melakukan semua kegiatan tersebut. Perempuan melakukan kegiatan produktif dalam usaha beternak sapi perah mulai dari pagi hari hingga siang menjelang sore, terkadang terdapat pula perempuan yang melakukan kegiatan produktif hingga malam hari. Namun dalam melaksanakan kegiatan produktif dalam usaha beternak sapi perah tersebut, mereka tidak lupa menjalankan tugas utama mereka sebagai ibu rumah tangga yang setiap harinya menjalankan tugas domestik di dalam rumah tangga seperti, memasak, mengurus anak, mencuci, serta kegiatan rumah tangga yang lain. Untuk mengetahui berbagai macam kegiatan produktif yang dilakukan oleh perempuan/istri peternak dalam kegiatan usaha beternak sapi perah tersebut, dapat dilihat pada table 6 berikut ini.


Tabel 6. Kegiatan Produktif Perempuan dalam Usaha Ternak Sapi Perah.
No Jenis Kegiatan Produktif Curahan Waktu Kerja Perempuan yang terlibat
Rataan(menit/hari) --%-- --%--
1. Mencari hijauan 58,00 35,29 86,66
2. Memberi pakan & minum 32,33 19,67 100,00
3. Membersihkan kandang 24,66 15,00 63,33
4. Memandikan Ternak 8,33 5,07 26,66
5. Memerah susu 0,00 0,00 0,00
6.
7.
8. Memasarkan susu
Mengolah susu
Membeli sapronak 0,00
0,00
41,00 0,00
0,00
24,95 0,00
0,00
73,33
9.
10.
11
12.
13.
14.. Mengobati ternak
Mengawinkan ternak
Melapor pada mantri hewan
Membeli bibit
Mengajukan kredit ternak
Menjual ternak 0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00 0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00 0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
Jumlah 164,32 100,00

Kegiatan produktif yang seringkali dilakukan perempuan dalam usaha beternak sapi perah di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali adalah kegiatan mencari hijauan, kegiatan memberi pakan dan minum, kegiatan membersihkan kandang, dan kegiatan membeli sapronak. Kegiatan–kegiatan tersebut dilakukan lebih dari (50%) perempuan di Kecamatan Ampel. Kegiatan produktif mencari hijauan/rumput misalnya dilakukan oleh (86,66%) perempuan dalam usaha beternak sapi perah. Mereka biasanya berangkat mencari rumput setelah menyelesaikan kegiatan rumah tangga mereka masing-masing. Kegiatan rumah tangga yang mereka lakukan sebelum mencari rumput biasanya adalah membuat sarapan, memasak dan mengurus anak-anak dan menjalankan kegiatan rumah tangga lainnya. Kegiatan rumah tangga tersebut berakhir kira-kira jam 09.00 WIB, setelah itu perempuan berangkat ke ladang untuk mencari rumput. Kegiatan mencari rumput ini membutuhkan rata-rata 58 menit. Ketika mencari rumput bagi responden yang memiliki ladang hijauan sendiri mereka tidak perlu jauh-jauh mencari rumput ke tempat yang lain. Jarak antara rumah dengan ladang hanya beberapa meter, karena ladang hijauan hanya terletak di seberang jalan atau di sekitar belakang rumah mereka.

“…sebagian peternak disini itu punya lahan sendiri mas, kalau punya ternak ya harus punya lahan, kalau cuma mempunyai ternak saja yaa nggak akan jalan…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)


Adapun bagi responden yang tidak memiliki ladang hijauan sendiri perempuan harus menempuh jarak yang relatif jauh 1 km hingga 3 km.

“…ngarite ting mriko mas lore mergi, wong kulo mboten gadhah suket piyambak, jarake mboten enten 1 kilo…” (Suminem, 40 tahun)

(“…mencari rumput disana mas, diutara mergi, orang saya tidak mempunyai rumput sendiri, jaraknya tidak ada satu km…”)

Peralatan yang digunakan oleh responden untuk mencari rumput adalah sabit, selendang, dan gendongan yang terbuat dari rotan. Biasanya alat-alat tersebut digunakan perempuan untuk mencari rumput lapang. Sementara untuk mencari hijauan berupa rumput gajah yang agak besar perempuan memakai gerobak kayu.
Frekuensi mencari rumput oleh perempuan tergantung kebutuhan ternak dan jumlah ternak mereka yang dimiliki. Semakin banyak ternak yang dipelihara maka semakin banyak pula rumput yang akan dicari oleh responden. Kegiatan mencari rumput ini dilakukan oleh responden satu kali dalam sehari dan maksimal dua kali dalam sehari tergantung tenaga yang ada. Biasanya mereka mencari rumput bersama-sama dengan suami mereka. Setelah itu beberapa jam kemudian perempuan ini pulang kembali kerumah untuk membawa hijauan yang telah diambil bersama-sama dengan suami mereka oleh terlebih dahulu, sementara suami mereka masih tinggal ditempat untuk mencari rumput beberapa jam kedepan. Seperti yang dilakukan oleh Ibu Suti (65 tahun), yang selalu melakukan kegiatan mencari rumput bersama-sama dengan suaminya.

“…ya cari rumput yaa ibuke yaa bapake, wong loro cari semua, kalau gak cari rumput ya makannya kurang…kira-kira 1-1,5jam…” (Suti, 65 tahun)

(“…ya mencari rumput ya ibu ya bapak, orang berdua mencari semua, kalau tidak mencari rumput ya makan buat sapi kurang, kira-kira 1-1,5jam…”)


Kegiatan lain selain mencari hijauan/rumput adalah kegiatan membersihkan kandang sapi. Dalam melaksanakan kegiatan ini perempuan di Kecamatan Ampel tercatat sebanyak (63,33%). Dalam kegiatan membersihkan kandang peternak di lokasi penelitian menyesesuaikan dengan kontruksi kandangnya. Apabila kontruksi kandangnya masih sederhana, misalkan lantai masih berupa alas tanah maka dapat menyebabkan lantai kandang menjadi becek ketika ternak membuang kotoran. Untuk mengantisipasinya responden biasanya memberi alas pada lantai yang becek tersebut dengan menggunakan jerami, untuk selanjutnya setelah beberapa hari kemudian baru dibersihkan dengan cara mengambil kotoran yang telah bercampur dengan jerami tersebut menggunakan sekop.

“…jarang dibersihkan, kan lantainya masih tanah jadi cuma ditutupi alang-alang biar tidak becek, kalau sudah satu minggu baru dibersihkan…” (Wartini, 46 tahun)


Berbeda lagi apabila kandangnya sudah semi permanen yang alas lantainya sudah diplester. Responden biasanya membersihkan kandang dengan menggunakan sekop lalu alas diguyur menggunakan air. Bahkan terdapat responden yang mengelola kotoran ini dengan sangat baik dengan menjadikannya sebagai biogas. Biogas digunakan sebagai alternatif untuk pembakaran. Responden bercerita biogas ini merupakan bantuan pemerintah dan ada beberapa masyarakat sekitar juga yang mendapatkan bantuan ini.

“…kotoran dimasukkan kedalam lubang besar (digester), entar digunakan sebagai pembakaran, sebagai biogas…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)


Waktu yang diperlukan untuk membersihkan kandang rata-rata adalah 24,66 menit. Pembersihan kandang dilakukan sehari sekali waktu pagi hari. Responden yang tidak melakukan kegiatan membersihkan kandang tercatat sebanyak (36,6%). Alasan mereka antara lain kegiatan membersihkan kandang dilakukan oleh suami mereka.

“…kalo bersihin teleknya saya gak ikut, gak bisa…”( Suti, 65 tahun)
(“…kalau membersihkan kotoran ternak saya tidak ikut, saya tidak bisa…”
Kegiatan membersihkan kandang merupakan kegiatan produktif dalam beternak sapi perah yang cukup berat bagi responden, hal ini dikarenakan responden cenderumg merasa jijik jika harus membersihkan kotoran dan tidak tahan dengan baunya. Akan tetapi, sebagai peternak yang telah memiliki pengalaman lama hal itu menjadi biasa.
Kegiatan produktif lainnya dalam beternak sapi perah yang dilakukan oleh perempuan adalah kegiatan memberi pakan dan memberi minum pada ternak. Waktu pemberian pakan berbeda-beda tiap responden. Umunmnya dua kali sehari, tetapi ada juga yang melakukannya sampai tiga kali. Terdapat pula responden yang melakukan pemberian pakan satu kali pada siang hari. Responden biasanya memberikan pakan berupa komboran pada pagi hari. Hal ini dilakukan sebelum pemerahan antara jam 05.00-06.00 WIB. Pemberian komboran bertujuan untuk merangsang mikroba rumen, dan dilakukan pemberian sebelum pemerahan agar mikroba dalam rumen dapat memanfaatkan karbohidrat dapat dicerna. Selain pagi hari pemberian komboran pada ternak juga dilakukan pada siang hari.

“…saya kan kerja mas, bapak juga kerja, kalau memberi pakan saya cuma pagi hari, kan gampang, cuma buat komboran. Kalau memberi pakan rumput entar siang setelah pulang kerja…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)


`“…ngombor katul pohong, nek awan nggih ngombor, ngombore esuk awan…” (Suminem, 40 tahun)

(…mengombor bekatul bersama singkong, kalau siang juga mengombor, mengombor pakan ternak dilakukan pagi dan siang…)

Sementara itu pemberian hijaun berupa rumput yang diberikan ternak, terlebih dahulu dicari dan dikumpulkan dalam kegiatan produktif mencari rumput. Pemberian pakan rumput dilakukan pada ternak pada pagi hari menjelang siang setelah kegiatan mencari rumput dan membersihkan kandang selesai dilakukan. Perempuan yang aktif dalam kegiatan ini sejumlah (100%) dikarenakan hampir semua perempuan pernah melakukannnya dan mereka memiliki waktu yang cukup, tetapi yang membedakan adalah intensitas waktu dalam pemberian pakan. Suatu ketika kira-kira pemberian rumput kurang maka mereka cuma menambahkan saja pemberiannya atau hanya menunggui ternak makan saja. Waktu yang dibutuhkan responden untuk memberi pakan dan memberi minum pada ternak hanya sebentar, terkadang hanya 5-10 menit, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu hampir 30 menit karena setelah rumput diberikan responden menunggui dan mengamati ternak mereka makan. Rata-rata waktu yang dibutuhkan dalam sehari untuk kegiatan memberi pakan dan minum adalah 32,33 menit.
Kegiatan produktif lainnya dalam usaha beternak sapi perah yang jarang dilakukan oleh responden adalah memandikan ternak, bahkan kegiatan ini tidak pernah dilakukan. Hanya sebagian kecil perempuan saja yang terlibat dalam kegiatan produktif memandikan ternak, yaitu hanya ( 26,66%). Hal ini dikarenakan responden memang jarang memandikan ternaknya. Ternak setiap hari tidak mungkin selalu dimandikan. Responden memandikan ternaknya setiap satu minggu sekali. Alasan lainnya adalah karena kegiatan ini dilakukan sendiri oleh suami mereka sehingga perempuan tidak perlu melakukannya. Waktu rata-rata yang dubutuhkan dalam memandikan ternak oleh perempuan adalah 8,33menit.

“…walah, lha wong sapine mboten pernah disirami, mung kandangipun diresiki amargi mangke teleke kangge damel rabuk…” (Suminem, 40 tahun)

(…ternak sapinya tidak pernah dimandikan, cuma dibersihkan saja kandangnya karena kotorannya digunakan sebagai pupuk…)


“…memandikan sapi jarang, paling cuma seminggu sekali sekitar satu jam…” (Giyarti, 32 tahun)


Usaha dalam beternak sapi perah memerlukan sarana produksi yang harus dibeli misalnya konsentrat. Pembelian konsentrat seringkali dilakukan oleh perempuan maupun suami mereka ataupun anak mereka dan anggota keluarga lainnya. Masyarakat disekitar penelitian lebih familiar dalam menyebut konsentrat dengan nama “brand”. Perempuan membeli “brand” di Pasar Ampel. Harganya adalah Rp.2000,00 – Rp.2500,00 per kg. Terdapat pula yang membeli sapronak tersebut di tetangga mereka sendiri. Akan tetapi yang dimaksud bukanlah konsentrat akan tetapi bekatul limbah pertanian yang sudah digiling dicampur dengan jagung. Untuk pembelian tersebut takaran yang digunakan bukanlah satuan kilogram akan tetapi dihitung dengan menggunakan sekop. Misalnya 1 sekop dihargai Rp.2000,00. Banyaknya pembelian bekatul ataupun konsentrat “brand” tergantung dengan uang yang mereka miliki. Sebanyak (73,33%) responden melakukan kegiatan produktif ini dengan rata-rata pencurahan waktu sekitar 41 menit. Kegiatan ini terlihat lama dilakukan dikarenakan perempuan dalam membeli “brand” misalnya diperlukan jarak yang tidak dekat. Jarak antara rumah mereka untuk sampai ke Pasar Ampel kira-kira sekitar 2-3 km. Umumnya responden dalam membeli “brand” disertai dengan berbelanja untuk membeli kebutuhan lainnya seperti sembako atau kebutuhan sehari-hari.

“…tumbas katul nggih sok kulo sok pak’e, nggih mboten mesti, tumbase ting pasar ampel…” (Suminem, 40 tahun)

(…beli bekatul ya kadang saya kadang juga bapak, ya tidak mesti, belinya di pasar ampel…)


Kegiatan produktif lainnya dalam usaha beternak sapi perah adalah kegiatan memerah susu, kegiatan memasarkan susu dan kegiatan mengolah hasil susu. Akan tetapi ketiga kegiatan tersebut tidak sama sekalipun dilakukan oleh responden (0%). Tidak hanya perempuan saja, karena laki-laki(suami) pun juga tidak melakukan kegiatan ini. Kegiatan memerah susu dan memasarkan susu misalnya, perempuan tidak melakukan kegiatan ini dikarenakan kegiatan ini dilakukan oleh petugas loper susu. Petugas ini datang pagi-pagi sekali berkeliling dari rumah peternak yang satu ke rumah peternak yang lain untuk memerah susu ternak, kemudian petugas ini jugalah yang kemudian mengantarkan susu ke KUD. Selanjutnya susu yang terkumpul dari KUD akan dikirim ke GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia). Hal inilah yang menyebabkan hampir tidak ada akses sama sekalipun yang dilakukan oleh perempuan untuk melakukan kegiatan lainnya yaitu kegiatan mengolah susu.

“…yang memerah susu ya pengepul, ntar dicatat berapa liter, kemudian tiap bulan kalau gak tiap minggu dimintai uang…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)
Sementara untuk kegiatan yang lainnya yaitu kegiatan mengobati ternak dan mengawinkan ternak, responden juga tidak pernah melakukan kegiatan ini (0%). Kegiatan mengobati ternak dan kegiatan mengawinkan ternak dilakukan oleh mantri hewan. Para peternak tidak mau main-main apabila suatu ketika ternak mereka sedang sakit. Mereka lebih suka menghubungi mantri hewan dariapada melakukan pengobatan sendiri. Selain tidak tahu-menahu tentang penyakit mereka sendiri juga khawatir terhadap ternaknya karena apabila tidak segera diobati karena akan berpengaruh pada produksi susu nantinya. Biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan oleh mantri hewan adalah Rp.50.000,00 untuk sekali suntikan.

“...nggih diobati, tapi mboten diobati piyambak, umpami nglairke mboten lancar nggih diundangke mantri, asmane Pak Karjo…” ( Suminem, 40 tahun)

(…ya diobati, tetapi tidak diobati sendiri, misalkan melahirkan tidak lancar ya menghubungi mantri, Pak Karjo namanya…)


“…ternak kalau sakit ya biasanya disuntik mantri sapi, membayar Rp.50.000 sekali suntikan…” (Suti, 65 tahun)


Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lokasi penelitian dapat diketahui bahwa perempuan mempunyai andil yang cukup besar dalam usaha beternak sapi perah. Hal ini terlihat dari pencurahan waktu yang diberikan dalam berbagai kegiatan produktif. Permpuan harus bisa membagi waktu mereka dengan pekerjaan rumah tangga sehari-hari yang harus dibebankan kepadanya dikarenakan perannya sebagai ibu rumah tangga. Perempuan yang ikut serta dalam kegiatan produktif dalam usaha beternak sapi perah menghabiskan rata-rata-rata 164,32 menit atau 2 jam 44 menit/hari untuk melakukan kegiatan mencari hijauan, memberi makan ternak dan memberi minum ternak, membersihkan kandang ternak, memandikan ternak, dan membeli sapronak.

4.7. Perilaku Perempuan/Istri Peternak

Perilaku merupakan segala tindakan yang dilaksanakan oleh seseorang dalam menghadapi situasi yang secara umum dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu pengetahuan, sikap, ketrampilan (Mardikanto, 1993). Perilaku perempuan/istri peternak tidak dapat lepas dari kegiatan produktif yang dilakukannya dalam usaha betrnak sapi perah. Artinya perilaku beternak perempuan tersebut tercermin dalami serangkaian kegiatan produktif yang dilakukannya dalam usaha beternak sapi perah guna menbantu suami untuk menambah pendapatan keluarga. Suhardiyono (1992) menyatakan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian sasaran ingin dicapai berupa peningkatan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap petani, sehingga mereka akan mampu untuk mandiri, karena tanpa adanya penambahan pengetahuan dan ketrampilan serta perbaikan sikap, akan sulit untuk memperbaiki kehidupan mereka yang masih tradisional.

4.7.1. Tingkat pengetahuan perempuan

Pengetahuan berkaitan erat dengan kemampuan pikiran, yaitu segala sesuatu yang diketahui atau akan diketahui berkenaan dengan sesuatau hal yang mencakup perubahan dari apa yang telah diketahui yang sifatnya kurang menguntungkan menjadi lebih baik dan menguntungkan. Kurangnya pengetahuan tentang sapta usaha beternak dikalangan perempuan petani ternak merupakan faktor penyebab rendahnya tingkat produktivitas dan keterbatasan kemampuan untuk menemukan suatu inovasi baru. Semakin tinggi pengetahuan seseorang perempuan tentang sapta usaha beternak maka semakin mudah menerapkan adopsi inovasi baru (Mardikanto, 1993). Hasil tingkat pengetahuan perempuan di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Persentase Jumlah Perempuan Menurut Tingkat Pengetahuan

Tingkat Pengetahuan
(Kategori) Jumlah Responden

-------%-------
Sangat Baik 10,00
Baik 66,66
Cukup 16,66
Kurang 6,66
Sangat Kurang 0,00

Berdasarkan Tabel 7 menunjukan secara umum tingkatan pengetahuan perempuan dalam usaha beternak sapi perah. Tercatat sebanyak 20 orang (66,66%) responden memiliki tingkat pengetahuan yang sudah baik. Sementara itu 10 responden memiliki tingkat pengetahuan yang bervariasi, 5 orang responden (16,66%) memiliki tingkat pengetahuan cukup, 3 orang responden (10%) memiliki tingkat pengetahuan sangat baik, dan 2 orang responden (6,66%) memiliki tingkat pengetahuan kurang.
Sebagaian besar perempuan memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik mengenai bibit, pakan ternak, perkandangan, kesehatan ternak, pengelolaan reproduksi, dan manajemen usaha. Akan tetapi tingkat pengetahuan perempuan mengenai penanganan pasca panen dan pemasaran perlu lebih ditingkatkan lagi. Dalam hal pemilihan bibit misalnya, perempuan rata-rata dapat menyebutkan lebih dari 3 alternatif jawaban mengenai apa saja bangsa sapi perah. Selain itu perempuan dapat mengetahui bagaimana ciri-ciri sapi perah yang baik dan dapat mengetahui apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih bibit sapi perah. Dalam hal pakan ternak, perempuan rata-rata dapat mengetahui apa saja jenis pakan untuk sapi perah, mengetahui apa saja pakan yang baik untuk sapi perah, serta bagaimana pemberian pakan yang baik untuk sapi perah. Demikian pula dengan pengetahuan perempuan mengenai perkandangan. Sebagaian besar perempuan dapat menyebutkan jenis-jenis perkandangan sapi perah dan mengetahui bagaimana ciri-ciri kandang yang baik untuk sapi perah serta bagaimana seharusnya kandang yang efektif dan efisien untuk sapi perah.
Tingkat pengetahuan perempuan mengenai pencegahan penyakit sapi perah juga sudah cukup baik. Perempuan rata-rata dapat menyebutkan lebih dari 3 alternatif jawaban tentang jenis-jenis penyakit yang sering menyerang sapi perah mereka. Selain itu rata rata perempuan dapat mengetahui apa penyebab sapi perah mereka menjadi tidak sehat, serta dapat mengetahui apa saja perlakuan yang perlu dilakukan agar sapi perah mereka tetap sehat dan juga mengetahui bagaimana perlakuan terhadap sapi perah yang sakit. Dalam hal pengetahuan perempuan mengenai pengelolaan reproduksi, perempuan rata-rata dapat mengetahui umur berapa sapi bila dikawinkan dan dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengawinkan sapi perah serta bagaimana ciri-ciri perkawinan yang berhasil. Demikian juga dengan tingkat pengetahuan perempuan mengenai manajemen usaha. Perempuan rata-rata dapat menyebutkan 3 alternatif jawaban mengenai pencatatan (recording) apa saja yang harus dilakukan, mengetahui pengelolaan atau manajemen untuk sapi perah, mengetahui pengelolaan anak sapi dan dara yang baik, serta mengetahui manfaat pengelolaan sapi perah. Akan tetapi tingkat pengetahuan perempuan mengenai penanganan pasca panen dan pemasaran masihlah sangat kurang. Hal ini dikarenakan dari serangkaian kegiatan produktif yang dilakukan, kegiatan memerah susu dan kegiatan memasarkan susu adalah kegiatan yang tidak pernah dilakukan. Demikian juga dengan kegiatan mengolah hasil susu. Kegiatan memerah susu dan memasarkan susu misalnya, perempuan tidak melakukan kegiatan ini dikarenakan kegiatan ini dilakukan oleh petugas loper susu, oleh karena itu tingkat pengetahuan mereka mengenai penanganan pasca panen dan pemasaran sangat kurang karena yang mereka tahu mengenai pasca panen yang dilakukan hanyalah pemerahan susu. Selain itu, perempuan hanya bisa menyebutkan satu atau dua alternatif jawaban mengenai apa saja yang dapat dijual dari usaha ternak sapi perah dan mengenai pola pemasaran produk.
Tingkat pengetahuan perempuan tentang beternak sapi perah yang dimiliki ini hanya diperoleh dari dan pengalaman selama beternak bertahun-tahun. Kondisi ini sesuai pendapat Mardikanto (1993), bahwa keterbatasan pengetahuan dikalangan petani ternak merupakan faktor penyebab rendahnya tingkat produktivitas serta membatasi kemampuan untuk mengadakan percobaan dan menciptakan inovasi baru.

4.7.2. Tingkat sikap perempuan

Sikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata dan perbuatan yang terjadi. Sikap merupakan faktor dalam diri manusia yang dapat mendorong untuk menimbulkan perbuatan atau tingkah laku petani ternak terhadap inovasi atau teknologi dalam suatu bidang dalam hal ini bidang peternakan (Mardikanto, 1993). Hampir semua petani ternak umumnya dan perempuan pada khususnya hidup dengan kebiasaan yang telah lama mereka lakukan melalui suatu cara tertentu dan terpaku dengan cara tersebut dari tahun ke tahun, sehingga petani ternak selalu merasa sering mempergunakan sikap mentalnya sendiri sebagai pendorong dalam menentukan persepsi pribadinya (Mosher, 1991). Hasil tingkat sikap perempuan di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini.

Tabel 8. Persentase Jumlah Perempuan Menurut Tingkat Sikap

Tingkat Sikap
(Kategori) Jumlah Responden

-----%----
Sangat Baik 3,33
Baik 96,66
Cukup 0,00
Kurang 0,00
Sangat Kurang 0,00

Berdasarkan tabel 8 terlihat bahwa rata-rata skor tingkat sikap responden dalam usaha beternak sapi perah sudah baik dengan persentase 96,66% atau sebanyak 29 responden, dan untuk kategori sangat baik dengan persentase 3,33% atau hanya 1 orang.
Sebagaian besar perempuan memiliki tingkat sikap yang baik mengenai bibit, pakan ternak, kesehatan ternak, pengelolaan reproduksi, penanganan pasca panen, dan manajemen usaha. Akan tetapi tingkat sikap perempuan mengenai perkandangan perlu lebih baik lagi. Tingkat sikap perempuan dalam hal pemilihan bibit sudah baik karena rata-rata perempuan setuju dengan pertanyaan yang diajukan misalnya, mengenai bibit sapi yang seharusnya dipelihara adalah bibit dari bangsa sapi perah yang unggul, pusat pembibitan sapi perah merupakan tempat untuk memperoleh bibit sapi perah yang baik, dan bibit sapi perah seharusnya dikelola secara terpisah dengan sapi dewasa. Perempuan rata-rata dapat mengetahui apa saja jenis pakan untuk sapi perah dan memberikan pakan yang baik untuk sapi perah mereka. Tingkat sikap perempuan dalam hal pemberian pakan ternak juga baik karena rata-rata perempuan memberikan pakan hijauan dua kali sehari berupa rumput gajah dan memberikan makanan tambahan berupa konsentrat pada sapi perah khususnya sapi perah laktasi, selain itu memberikan pakan untuk ternak sapi perah yang berbeda antara sapi pedhet, sapi dara, dan sapi dewasa atau laktasi. Demikian juga tingkat sikap perempuan mengenai pencegahan penyakit karena rata-rata memelihara sapi perah mereka dengan kebersihan lingkungan harus terjaga dengan baik karena kebersihan kandang sangat berpengaruh terhadap kesehatan sapi perah dan produksi susunya.
Tingkat sikap perempuan dalam pengelolaan reproduksi juga sudah baik karena rata-rata perempuan mengawinkan ternak sapinya dengan bantuan mantri hewan tepat pada saat birahi. Selain itu perempuan juga mengetahui jika sapi perah yang sedang sakit menular sebaiknya tidak boleh diperah susunya ataupun dijual. Dalam hal sikap perempuan mengenai penanganan pasca panen dan pemasaran juga sudah cukup baik, walaupun perempuan tidak memerah susu ternak mereka sendiri, akan tetapi setidaknya mereka sudah tahu bahwa pasca panen sangat menentukan sekali terhadap keberhasilan usaha tani ternak sapi perah sehingga sebaiknya pemerahan susu dan pemasaran susu dilakukan oleh mereka sendiri. Demikian juga dengan tingkat sikap perempuan dalam manajemen usaha yang mereka jalankan, secara umum perempuan melakukan serangkaian kegiatan produktif meliputi mencari rumput, memberi pakan, membersihkan kandang dan memandikan ternak, dll. Selain itu perempuan juga telah melakukan catatan harian (recording) sehingga setiap anggota Gapoktan memiliki catatan (recording) terhadap sapi perah mereka masing-masing karena dengan pencatatan tersebut maka akan didapat hasil yang nantinya bisa dievaluasi untuk mengadakan penilaian terhadap perkembangan usaha ternaknya.
Berbeda dengan enam sikap perempuan mengenai sapta usaha lainnya dalam beternak sapi perah yang sudah cukup baik, tingkat sikap perempuan mengenai perkandangan masih sangat kurang. Perempuan rata-rata masih menggunakan kandang yang masih sederhana sehingga kurang memberi kenyamanan dan keamanan bagi sapi perah mereka. Kandang umumnya kurang memperoleh sinar matahari yang cukup, alas masih seadanya, dan masih jadi satu dengan tempat tinggal.
Sikap merupakan kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata dan perbuatan yang terjadi. Sikap dan tanggapan para perempuan terhadap perubahan kebiasaan pada umumnya didasarkan pada beberapa pertimbangan yang dianggap baik dan cocok. Sebagian besar responden memberi tanggapan secara baik terhadap perilaku yang dilakukan dalam usaha pemeliharaan ternak sapi perah. Kartasapoetra (1994) menyatakan bahwa perubahan sikap meliputi perubahan dalam perilaku dan perasaan yang didukung oleh adanya peningkatan kecakapan, kemampuan, dan pemikiran.

4.7.3. Tingkat ketrampilan perempuan

Ketrampilan merupakan teknik melakukan sesuatu yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Levis (1996), mengemukakan bahwa ketrampilan adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas baik secara perorangan maupun kelompok. Ketrampilan ini biasanya diperoleh dengan pengalaman bekerja dan cenderung lebih membutuhkan kemampuan fisik. Menurut Mosher (1991), umumnya di dalam pertanian tidak terdapat spesialisasi pekerjaan dan setiap orang harus memiliki berbagai ketrampilan, sehingga dengan bertambah tingkat ketrampilan diharapkan petani ternak lebih aktif dan dinamis serta terbuka dalam mengadopsi teknologi baru. Ketrampilan perempuan dalam beternak sapi perah di Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Persentase Jumlah Perempuan Menurut Tingkat Ketrampilan

Tingkat Ketrampilan
(Kategori) Jumlah Responden

-----%------
Sangat Baik 0,00
Baik 33,33
Cukup 66,66
Kurang 0,00
Sangat Kurang 0,00


Berdasarkan tabel 9 menunjukan bahwa rata-rata skor tingkat ketrampilan responden dalam usaha beternak sapi perah termasuk kategori cukup sebesar 66,66% atau sebanyak 20 responden, sementara 10 responden (33,33%) memiliki tingkat ketrampilan sudah baik.
Sebagaian perempuan memiliki tingkat ketrampilan yang cukup dalam segala aspek sapta usaha beternak sapi perah sehingga menurut peneliti tingkat ketrampilan perempuan agar lebih ditingkatkan lagi. Hal ini dikarenakan tingkat ketrampilan perempuan dalam penerapan segala aspek sapta usaha umumnya hanya berdasarkan pengalaman atau kebiasaan yang telah lama mereka lakukan melalui suatu cara tertentu dan terpaku dengan cara tersebut dari tahun ke tahun. Misalnya saja dalam penggunaan kandang yang masih sederhana sehingga kurang memberi kenyamanan dan keamanan bagi sapi perah mereka. Kandang umumnya kurang memperoleh sinar matahari yang cukup,kurang sirkulasi udara, alas masih seadanya, dan masih jadi satu dengan tempat tinggal yang terletak dibelakang rumah mereka. Pembersihan terhadap kandangpun dilakukan apabila kotoran sudah dirasa menumpuk dan memandikan ternak sangat jarang sekali dilakukan. Untuk itu perempuan perlu mendapatkan ketrampilan bagaimana seharusnya tata cara pemeliharaan sapi perah yang baik dan benar dari buku dan penyuluhan. Penyuluhan ini biasanya memberikan ketrampilan dan pelatihan dari pihak PPL (Petugas Penyuluh Lapangan).
Ketrampilan merupakan kemampuan untuk melaksanakan tugas baik secara perorangan maupun kelompok, ketrampilan ini biasanya diperoleh dengan pengalaman bekerja dan cenderung lebih membutuhkan kemempuan fisik. Ketrampilan bisa digunakan sebagai modal untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah selain dari segi pengetahuan itu sendiri, karena untuk bisa berhasil dalam mengelola usaha peternakan dituntut suatu keuletan dan ketrampilan. Semakin lama pengalaman beternak atau melakukan usaha lain maka akan cenderung semakin mudah petani ternak dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan proses produksi ternaknya Apabila tingkat ketrampilan semakin berkembang, maka akan mempermudah mengadopsi suatu inovasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Mardikanto (1993), bahwa bertambahnya tingkat ketrampilan menyebabkan petani ternak lebih dinamis, aktif, dan terbuka dalam mengadopsi sesuatu yang baru. Apabila petani ternak memiliki ketrampilan yang cukup dan terdapat suatu inovasi baru di bidang peternakan, maka petani ternak tersebut akan mudah mengadopsi inovasi baru.


4.8. Akses dan Kontrol Perempuan dalam Usaha Ternak Sapi Perah


Akses merupakan peluang untuk memanfaatkan atau mempergunakan suatu sumber daya tanpa adanya kekuasaan untuk mengambil keputusan untuk mengambil keputusan mengenai penggunaan sumber daya tersebut. Kontrol merupakan penguasaan terhadap sumber daya atau wewenang untuk mengambil keputusan menggunakan sumber daya tersebut. (Peebles, 1996). Akses dan kontrol merinci sumber–sumber apa yang dikuasai pria dan perempuan untuk melaksanakan kegiatannya, dan manfaat apa yang diperoleh setiap orang dari kegiatan tersebut. Profil akses dan kontrol merupakan kunci yang menentukan kedudukan sosial budaya, ekonomi dan politik seseorang dalam masyarakat. Akses dan kontrol perempuan dalam usaha beternak sapi perah terbagi dlam berbagai hal, diantaranya adalah pemeliharaan ternak, pemasaran susu, pengelolaan pendapatan, pengajuan kredit, dan penyuluhan.
Perempuan di lokasi penelitian mempunyai akses dan kontrol yang tinggi dalam hal pemeliharaan ternak, pengelolaan pendapatan, dan kegiatan penyuluhan (pendidikan & pelatihan), namun memiliki akses yang rendah dalam hal memasarkan susu dan pengajuan kredit. Kontrol terhadap sumber daya dalam usaha beternak sapi perah yang dilakukan perempuan terbesar pada sumberdaya pengeloaan keuangan disusul sumberdaya dalam pemeliharaan ternak baru kemudian sumberdaya dalam mengikuti penyuluhan.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table 10 bawah ini.


Tabel 10. Akses dan Kontrol Perempuan pada Usaha Ternak Sapi Perah

No Jenis Sumber Daya Akses Kontrol
Wanita Pria Wanita Pria
1. Pemeliharaan Ternak T T T T
2. Penjualan & Pemasaran Susu - - - -
3. Pengelolaan Pendapatan T T T R
4. Pengajuan Kredit R T R T
5. Penyuluhan Ternak T T R T
*Keterangan : T (tinggi), R (rendah),

Perempuan di lokasi penelitian mempunyai akses yang sangat tinggi dalam hal pemeliharaan ternak dikarenakan sebagaian besar perempuan tidak bekerja di luar rumah, sedangkan usaha beternak sapi perah merupakan usaha sambilan disamping usaha pokok mereka sebagai petani sehingga sudah pasti seorang perempuan/istri ikut membantu suami mereka ketika bekerja. Keaktifan seorang perempuan/istri dalam hal pemeliharaan ternak dilandasi oleh rasa tanggung jawab untuk membantu beban suami mereka guna menopang perekonomian keluarganya untuk menambah pendapatan. Alasan lain adalah dengan memelihara ternak diharapkan bisa menjadi tabungan jangka panjang suatu waktu apabila dibutuhkan.

“…untuk model sampingan begini selain bertani, usaha beternak banyak manfaatnya. Kalau beternak sapi perah bisa dapat uang dari jual susu, ya cukup untuk makan sehari-hari. Untuk kebutuhan mendesak biasanya untuk uang sekolah anak ya bisa dari jual pedhet…” (Sri Supriyanti, 43 tahun).


Walaupun tidak semua pekerjaan dam usaha beternak sapi perah dilakukan oleh perempuan akan tetapi akses untuk mempergunakan sumber daya terbuka luas. Adanya pekerjaan – pekerjaan yang tidak lakukan oleh perempuan lebih disebabkan keterbatasan tenaga untuk melakukannya. Untuk mengatasi ternak besar seperti sapi dibutuhkan tenaga yang cukup besar, jadi untuk pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan ternak lebih sering dilakukan oleh laki-laki yang mempunyai kemampuan fisik dan tenaga lebih besar daripada perempuan sehingga tidak kerepotan misalnya ketika saja sapi yang sedang ditangani telah mengamuk.
Kontrol yang dimiliki perempuan dalam pemeliharaan ternak sapi perah cukup tinggi. Ketika ternak sedang sakit misalnya, tanpa disuruh oleh suaminnya perempuan langsung menghubungi mantri hewan. Kegiatan membersihkan kandang pun, tanpa menunggu suaminya atau tanpa menunggu kotoran menumpuk, bila terdapat waktu luang membersihkan kotoranpun akan langsung dibersihkan oleh perempuan. Perempuan tidak mempunyai akses dan kontrol dalam hal menjual dan memasarkan susu (0%). Hal ini dikarenakan peternak tidak memiliki kebebasan kemana dan kepada siapa akan menjual dan memasarkan susu. Semua peternak yang memiliki sapi laktasi menjual susunya kepada KUD. Peternak tidak dapat memerah ternaknya sendiri, karena setiap harinya ternak mereka diperah susunya oleh petugas loper susu. Petugas loper susu ini juga yang bertugas menyetor susu ke KUD, kemudian KUD menyetor semua hasil susu ke GKSI. Harga jual susu ditetapkan oleh pengepul seharga Rp.2300,00/liter

“…yang memerah susu ya pengepul, ntar dicatat berapa liter, kemudian tiap bulan kalau gak tiap minggu dimintai uang…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)


Akses dan kontrol perempuan dalam pegelolaan keuangan hasil dari usaha beternak sapi perah sangatlah tinggi, yaitu 96,66%. Umumnya pendapatan tersebut dihasilkan dari penjulan susu. Hal ini di karenakan perempuan bisa memperoleh manfaat dari hasil penjualan susu itu. Uang hasil penjualan susu diserahkan kepada istri dan dikelola sepenuhnya oleh istri/perempuan. Hal in dikarenakan perempuan sebagai ibu rumah tangga lebih mengerti tentang apa yang dibutuhkan dalam keluarganya, misalnya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

“…sing ngelola keuangan nggih mboten mesti mas, sok kulo sok pak’e, nggih mboten kagem nopo-nopo wong kagem tumbas mangan meleh, diputer meleh…” (Suminem, 40 tahun)

(…yang mengelola keuangan ya tidak pasti, terkadang saya terkadang bapaknya, kan tidak buat beli apa-apa mas orang buat beli makanan sehari-hari, hasilnya diputar lagi…)


Sementara itu tidak sedikit pula perempuan yang diberi setengah saja dari hasil penjualan susu, sedangkan sisanya dipegang oleh suami mereka. Bahkan terdapat pula seorang perempuan yang tidak memiliki akses dalam pengelolaan pendapatan. Hal ini dikarenakan responden tersebut memiliki tanggungan lain atau mempunyai kesibukan lain sehingga tidak dapat mengelola uang.

“…yang mengelola pendapatan bapak, saya cuma dijatah, saya punya cucu, nah ditinggal ibunya kerja, jadi saya momong cucu saya….” (Giyarti, 50 tahun)

Menurut Andria dan Reychman (1991) perempuan bertanggung jawab mengatur pemasukan dan pengeluaran keluarga, sementara laki-laki bertanggung jawab mencari uang dengan bekerja diluar rumah. Hal ini berarti dalam pengelolaan keuangan keluarga, seorang ibu/perempuanlah yang memegang peranan besar karena sesorang ibu yang lebih tahu apa kebutuhan yang harus dicukupi sehari-hari. Seorang perempuan dianggap lebih teliti sehingga peran pengelolaan keuangan disandangnya.
Perempuan memiliki akses dan kontrol yang rendah dalam hal pengajuan kredit (0%). Hal ini dikarenakan kredit tentang usaha ternak lebih sering diberikan kepada kepala keluarga dalam hal ini adalah suami mereka, misalnya progam gaduhan ternak dari pemerintah. Pernah suatu ketika salah satu desa di Kecamatan Ampel mendapat program bantuan dari pemerintah. Bantuan ini berupa bantuan indukan ternak kepada peternak yang syaratnya peternak diwajibkan mengembalikan pedhet kepada pemerintah. Akan tetapi seiring berjalannya waktu program pemerintah ini gagal total, dikarenakan indukan yang diberikan pemerintah banyak yang mati dan kebanyakan dijual oleh peternak itu sendiri. Sampai saat ini pun masih beredar kabar bahwa terdapat beberapa peternak yang belum sanggup mengembalikan ataupun mengganti uang kepada pemerintah. Hal inilah yang menyebabkan peternak takut untuk mengajukan kredit ataupun menerima bantuan.

“…gak berani ngajuin kredit, kalau gak bisa balikin gimana? Seadanya aja, ini aja sudah lebih dari cukup…” (Suti, 65 tahun)


Untuk sumber daya penyuluhan (pendidikan & pelatihan) mengenai peternakan, akses dan kontrol perempuan sangat bertolak belakang. Hal ini teridentifikasi ketika dilakukan wawancara terhadap perempuan. Ini dikarenakan perempuan di daerah penelitian terdapat KWT (Kelompok Wanita Tani). Kelompok Wanita Tani rata-rata melakukan pertemuan rutin yang diselenggarakan setiap 30 hari sekali. Berbeda dengan perkumpulan untuk laki-laki (Gapoktan), yaitu Gabungan Kelompok Tani, kegitan KWT jarang diberikan pemberian informasi ataupun penyuluhan tentang ternak, kegiatan rutin KWT hanya diisi dengan arisan dan pemberian informasi tentang pertanian. Sementara itu, kegiatan resmi Gapoktan sering sekali diberikan informasidan pembicaraan di luar bidang perternakan. Rata-rata pertemuan rutin yang dilakukan diisi dengan arisan, rapat, diskusi dan pemberian informasi yang dipimpin oleh ketua kelompok. Kegiatan diskusi, pemberian informasi dan arisan dilakukan bersamaan dengan pertemuan rutin. Diskusi dilakukan disesuaikan dengan permasalahan yang sedang dihadapi anggota baik di bidang pertanian maupun peternakan.
Oleh karena itulah kontrol perempuan rendah sekali dalam mengikuti kegiatan rutin KWT. Kebanyakan responden adalah anggota tidak aktif, selain itu responden bercerita mereka sibuk dan mereka hampir tidak ada waktu untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“…pelatihan dan penyuluhan gak ada, tapi pengarahan dari mantri sapi tentang penyakit ada…” (Giyarti, 32 tahun)


4.9. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Peranan Perempuan Pada Usaha
Ternak Sapi Perah



Dalam usaha beternak sapi perah terdapat beberapa faktor yang menghambat dan mendukung yang mempengaruhi peranan perempuan. Sikap yang menganggap bahwa usaha beternak sapi perah adalah usaha sampingan menyebabkan kenginan untuk meningkatkan hasil dan mengembangkan usaha menjadi belum maksimal. Pemeliharaan sapi perah yang masih dilakukan berdasarkan pengalaman sehingga hanya berdasarkan perkiraan. Pengelolaan yang masih tradisional dan masih sederhana tanpa adanya pencatatan keuangan sedikit menyulitkan dalam menghitung berapakah keuntungan yang diterima.
Pengetahuan perempuan mengenai tata laksana pemeliharaan sapi perah juga masih rendah. Walaupun memperoleh penyuluhan melalui kegiatan rutin KWT dan Gapoktan, tetapi tingkat keaktifan dan keikutsertaan perempuan dalam mengikuti kegiatan rutin tersebut sangatlah kurang. Pengetahuan perempuan hanya berdasarkan pengalaman dan kebiasaan yang dilakukan suami dan peternak dilingkungan sekitarnya yang belum tentu tepat. Sementara itu biaya untuk mendapatkan sarana produksi beternak dalam usaha ternak sapi perah dirasakan sangat membebani keluarga, dikarenakan penghasilan yang masih rendah. Misalnya untuk membeli bekatul disesuaikan dengan kemampuan yang ada.

“…ya jarang konsentrat, nggak beli orang nggak punya uang. cuma dikasih singkong sama air. Ya kalo punya uang ? kalo nggak punya uang gimana ? darimana ?...” (Suti, 65 tahun).

Pengelolaan pasca panen di lokasi penelitian yang cenderung dilakukan hanyalah pemerahan. Kualitas susu bisa bervariasi karena penanganannya (handling) pun berbeda-beda. Secara umum kualitas susu yang dihasilkan peternak masih rendah. Hal ini dikarenakan pemerahan susu tidak dilakukan oleh peternak itu sendiri melainkan dilakukan oleh petugas pemerah/loper susu yang datang langsung ke rumah masing-masing peternak. Pemerahan yang dilakukan oleh loper susu tersebut terkesan asal-asalan. Beberapa peternak mengeluhkan sikap petugas loper susu ketika memerah susu ternak mereka, karena tidak mengikuti kaidah/tata cara pemerahan yang baik. Terkadang pemerahan yang dilakukan oleh petugas loper susu tersebut hanya datang ke kandang dan tinggal memerah saja tanpa membersihkan ambing ternak terlebih dahulu. Pengelolaan pasca panen yang baik dapat dilihat dari proses pemerahan. Proses pemerahan yang baik harus menunjukkan beberapa ciri, yaitu pemerahan dilakukan dengan interval yang teratur, cepat, dikerjakan dengan kelembutan, pemerahan dilakukan sampai tuntas, menggunakan prosedur sanitasi dan efisien dalam penggunaan tenaga kerja. Apabila beberapa ciri tersebut selalu dipenuhi, maka akan menghasilkan produksi yang tinggi, daya tahan hidup sapi lebih lama dan diperoleh keuntungan yang lebih baik.
Lebih disayangkan lagi adalah harga susu yang rendah. Susu dihargai Rp.2.300,00/liter. Harga susu sendiri ditentukan oleh pasar, sehingga peternak tidak dapat menentukan harga susu dengan sendirinya. Disamping itu, harga susu juga dipengaruhi oleh kualitas susu itu sendiri, karena apabila kualitas susu buruk misalnya warna tidak putih pekat dan terlalu encer maka harga susu dipastikan akan turun drastis.
Hal-hal yang mendukung peranan perempuan dalam usaha beternak sapi perah adalah perempuan mempunyai waktu luang sehingga dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan produktif dalam usaha beternak sapi perah guna menambah pendapatan keluarga.
Faktor alam di lokasi penelitian juga sangat mendukung bagi para peternak untuk beternak sapi perah, khususnya untuk perempuan dapat menjadi dorongan bagi peran perempuan dalam usaha beternak sapi perah misalnya dengan tersedianya hijauan pakan ternak mereka tidak perlu susah-susah untuk mencari rumput. Ketersediaan hijaun di daerah penelitian cukup melimpah karena kondisi alam yang sejuk dan curah hujan yang tinggi sehingga tidak perlu takut akan kekurangan hijauan
Lingkungan disekitar mereka juga mendukung, yaitu terlihat dengan banyaknya masyarakat yang memelihara ternak sapi sehingga hal ini memotivasi perempuan untuk berperan serta dalam usaha beternak sapi perah.

4.10. Need Assesment Perempuan dalam Usaha Ternak Sapi Perah

Need Assesment atau analisis kebutuhan merupakan suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Need assessment adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui perbedaan antara kondisi yang diinginkan/seharusnya atau diharapkan dengan kondisi yang ada. Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada, seringkali disebut dengan kondisi riil atau kondisi nyata (Anderson et al.,2003).
Berdasarkan wawancara mendalam yang dilakukan maka dapat diidentifikasi kebutuhan perempuan dalam usaha beternak sapi perah, antara lain :
1. Peran serta perempuan untuk mengikuti penyuluhan dalam kegiatan rutin KWT dan Gapoktan mengenai beternak sapi perah agar lebih ditingkatkan lagi sehingga pengetahuan ketrampilan mereka dalam beternak sapi perah juga meningkat.
2. Biaya membeli pakan bisa sesuai dan harga susu bisa lebih tinggi sehingga bisa menutup biaya operasional dalam pemeliharaan sapi perah.
“…harga susu rendah, kalau diuangkan harga rumput juga mahal, harga katul mahal, kalau dikalkulasi harga buat membayar tenaga kerja juga mahal, kecuali kalau ditangani sendiri, ya intinya biaya operasionalnya tidak sesuai, harga sapi juga rendah…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)

3. Harga ternak dalam penjualan sapi pedhet dan penjualan sapi afkir bisa lebih tinggi, dikarenakan harga sapi sekarang ini di sekitar lokasi penelitian masih sangat rendah. Hal ini disebabkan adanya impor besar-besaran sapi dari Australia sehingga menyebabkan harga sapi lokal yang dijual oleh peternak menjadi lebih murah.

“…harga jual sapi sekarang turun drastis, dikarenakan adanya sapi impor dari Australia sehingga harga jual sapi sini jadi kalah…” (Restuti H, 30 tahun)

4. Mendapatkan pengetahuan cara beternak sapi perah melalui buku-buku praktis peternakan bagi para perempuan. Hal ini bisa dilakukan karena sebagaian perempuan sudah pernah mengenyam pendidikan minimal sekolah dasar dan paling tidak mereka bisa membaca.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan

Peranan perempuan dalam usaha beternak sapi perah tercermin dalam serangkaian kegiatan produktif yang dilakukan. Serangkaian kegiatan produktif tersebut adalah kegiatan mencari hijauan, membersihkan kandang, dan memandikan ternak, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan memberi pakan dan minum. Waktu yang digunakan dalam kegiatan mencari hijauan adalah 58 menit, membersihkan kandang 24,66 menit, memandikan ternak 8,33 menit, dan kegiatan memberi pakan dan minum 32,33 menit. Alokasi waktu yang digunakan perempuan dalam kegiatan produktif rata-rata adalah 2 jam 73,5 menit/hari. Kegiatan memerah susu, memasarkan susu, dan mengolah susu tidak dilakukan oleh perempuan melainkan dilakukan oleh petugas loper susu karena ketiadaan akses untuk melakukannya. Kegiatan mengawinkan ternak dan mengobati dilakukan oleh petugas mantri hewan. Kegiatan membeli bibit dan kegiatan menjual ternak dilakukan suami mereka karena keterbatasan perempuan dalam mengetahui harga. Kegiatan mengajukan kredit tidak dilakukan karena mereka beranggapan pengajuan kredit dapat menimbulkan masalah dikemudian hari seandainya mereka tidak dapat mengembalikan kredit tersebut.
Akses terbesar dalam penggunaan sumber daya pada usaha dalam beternak sapi perah terdapat pada aspek pemeliharaan ternak, pengelolaan pendapatan, dan penyuluhan ternak. Walaupun tidak semua kegiatan produktif dalam usaha beternak sapi perah dilakukan oleh perempuan namun akses untuk mempergunakan sumber daya dalam beternak sapi perah terbuka luas. Perempuan mempunyai waktu luang sehingga dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan produktif seperti ikut dalam kegiatan pemeliharaan ternak dalam usaha beternak sapi perah serta mengikuti kegiatan penyuluhan ternak. Perempuan memiliki akses yang sangat tinggi dalam mengelola pendapatan karena uang hasil penjualan ternak diserahkan oleh suami mereka kepada perempuan dan dikelola sepenuhnya oleh perempuan.
Kontrol perempuan dalam usaha beternak sapi perah terbesar terletak pada sumber daya pemeliharaan ternak dan pengelolaan pendapatan. Kontrol perempuan dalam pemeliharaan ternak tinggi karena perempuan sudah tahu apa yang seharusnya dilakukan tanpa menunggu keputusan dari suaminya. Kontrol dalam pengelolaan pendapatan juga sangat tinggi karena perempuan lebih tahu apa saja yang dibutuhkan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Faktor-faktor yang dapat menghambat peranan perempuan dalam usaha beternak sapi perah antara lain adalah : beternak sapi perah masih merupakan usaha sampingan atau sambilan disamping usaha pokok sebagai bertani. Kurang aktifnya perempuan dalam kegiatan penyuluhan serta biaya yang tidak kecil dalam usaha beternak sapi perah merupakan faktor penghambat peranan perempuan. Sementara itu biaya untuk mendapatkan sarana produksi beternak dalam usaha ternak sapi perah dirasakan sangat membebani keluarga, dikarenakan penghasilan yang masih rendah. Faktor penghambat lainnya adalah pemerahan yang tidak dilakukan sendiri oleh peternak melainkan oleh petugas loper susu serta kewajiban harus menyetor susu ke KUD melalui petugas loper susu menyebabkan tidak berjalannya fungsi pemasaran karena peternak tidak bebas menjual susunya sehingga menyebabkan tertutupnya akses dalam pengolahan susu. Faktor pendukung peranan perempuan dalam usaha beternak sapi perah adalah perempuan mempunyai waktu luang sehingga dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan produktif dalam usaha beternak sapi perah serta adanya dorongan bagi perempuan dalam usaha beternak sapi perah misalnya dengan tersedianya hijauan pakan ternak sehingga mereka tidak perlu susah-susah untuk mencari rumput. Kebutuhan perempuan dalam usaha beternak sapi perah yang diinginkan adalah biaya membeli pakan bisa sesuai dan harga susu bisa lebih tinggi sehingga bisa menutup biaya operasional dalam pemeliharaan sapi perah. Selain itu perempuan perlu mendapatkan informasi dari buku-buku, booklet, leaflet, dan folder bagaimana cara beternak sapi perah yang baik sehingga pemeliharaan dalam beternak sapi perah yang mereka lakukan bisa lebih baik lagi. Disamping itu perempuan juga perlu mendapatkan kredit ternak, akan tetapi bantuan kredit berupa ternak hanya terbatas untuk kelompok saja.

5.2. Saran


Untuk meningkatkan peranan perempuan dalam usaha beternak sapi perah terdapat beberapa saran yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Peran perempuan lebih ditingkatkan lagi dalam aspek pemeliharaan ternak khususnya dalam kegiatan penanganan pasca panen dan pemasaran karena dari serangkaian kegiatan produktif yang dilakukan, kegiatan memerah susu dan memasarkan susu merupakan kegiatan yang tidak dilakukan sehingga pengetahuan mereka mengenai pasca panen dan pemasaran sangatlah kurang.
2. Peran Perempuan lebih ditingkatkan dalam kegiatan mendapatkan penyuluhan dan pendidikan sehingga dapat mengembangkan dan memajukan usaha mereka dalam beternak sapi perah lebih baik lagi.
3. Pemerintah perlu mendorong tumbuhnya investasi khususnya dibidang usaha peternakan sapi perah di Kecamatan Ampel agar dapat meningkatkan pengembangan ternak sapi perah dengan cara pemberian gaduhan atau kredit bunga rendah sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Ampel.


DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, M. 1994. Manajemen Tenaga Kerja. PT. Gramedia, Jakarta.

Anderson GM and Brown AD. 2003. The population perspective: linking CME to population needs. In The Continuing Professional Development of Physicians. Ed. Davis D, Barnes BE, Fox R. AMA Press, p55-65.

Andria, V. Dan Reychman, K. 1999. Dampak Krisis Terhadap Perempuan Miskin di Kota Bandung – Perempuan Sebagai Pengelola Rumah Tangga Miskin. Akatiga – Pusat Analisis Sosial, Bandung.

Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta, Jakarta.

Blakely, J. dan D. H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan Edisi Keempat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh Bambang Srigandono).

Davis, D. 2010. Need Assessment – Classifications of Needs Assesment. http://stmichaelhospital.com. (Diakses 25 Maret 2011)

Direktorat Jenderal Peternakan. 1990. Pedoman Teknis Perusahaan Sapi Perah, Jakarta.

Direktorat Jenderal Peternakan. 1992. Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Kelompok Tani Ternak. Dirjen Peternakan, Jakarta.

Dwidjatmiko, S. dan S. I. Santoso. 1993. Peranan Tenaga Kerja Wanita Pada Sektor Peternakan di Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal Propinsi Jawa Tengah. Buletin Sintesis No. 5 tahun III halaman 54-58.

Efendi, A. 2009. Need Assesment (Analisis Kebutuhan). http://ariefefendi.blogspot.com. (Diakses 25 Maret 2011)

Ensminger. 1971. Dairy Cattle Science. The Enterstate Published Inc., Englewood Clifs, New Jersey

Indraswari. 2000. Dikotomi Gender – Sebuah Tinjauan Sosiologis. http://.unpar.ac.id. (Diakses 17 September 2009)

Levis, L.R. 1996. Komunikasi Penyuluhan Pedesaan. Citra Aditya, Bandung
Lubis, D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan kedua PT Pembangunan, Jakarta

Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press, Surakarta
Marzuki, S. 2005. Analisis Perancangan Optimasi Usaha Pada Ternak Sapi Perah Rakyat KTT Sedyo Mulyo Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Jurnal Sosial Ekonomi Peternakan. Vol. 1. Juli 2005. Hal:38-49.

Moleong, L. J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya, Jakarta.

Mosher, A.T. 1991. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. CV. Yasaguna, Jakarta.

Mubyarto dan A. Basuki. 1992. Peranan Wanita Dalam Pengembangan Pedesaan. Seminar Pedesaan P3PK. Universitas Gajah Mada.

Mukhtar, A. 2006. Ilmu Produksi Ternak Perah. Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan Ilmu Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press), Surakarta.

Muljana, W. 2006. Pemeliharaan dan Kegunaan Ternak Sapi Perah. Aneka Ilmu, Semarang.

Nurtini, S. 1993. Keterkaitan Tenaga Kerja Wanita dalam Pemeliharaan Ruminansia Kecil di Pedesaan. Buletin Peternakan. Edisi Khusus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Halaman 19 – 23

Pebbles, D 1996. Manual Jender Untuk Proyek Pengembangan dan Organisasi di Indonesia. The Women’s Support Project (WSP), Jakarta.

Prihadi, S. 1996. Tata Laksana dan Produksi Ternak Perah. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Wangsamanggala, Yogyakarta

Rogers, E. M. dan F. F. Shoemaker. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Usaha Nasional, Surabaya.

Sajogyo, P. 1996. Ekonomi Rumah Tangga Pedesaan dan Peranan Wanita:Sebuah Penelitian di Dua Desa Jawa Barat. Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan. IPB, Bogor.

Siregar, S. 1995. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Penebar Swadaya, Jakarta.
Singarimbun, M. dan S. Effendi. 1995. Metode Penelitian Survei. LP3S, Jakarta.

Soedarmono. 1993. Tata Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.

Soekartawi, A. Soeharjo, S.L. Dillon dan I.B. Hardeker. 1984. Ilmu Usaha Tani dan Penelitian Untuk Pengembangan Usaha Tani. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial dan Ekonomi. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.

Sudono, A., R, F. Rosdiana dan B. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Bogor.

Sudono, A. 1984. Produksi Sapi Perah. Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Sudono, A. 1999. Produksi Sapi Perah. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan : Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian. Penerbit Erlangga, Cetakan II, Jakarta.

Suradisastra, K. 1978. Sikap Mental Peternak Sapi Perah Merugi di Jawa Tengah. Lembaga Penelitian Peternakan,Bogor

Sutardi, T. 1981. Sapi Perah dan Pemberian Makanannya. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Syarief, M.Z. dan C.D.A. Sumoprastowo. 1990. Ternak Perah. CV Yasaguna Jakarta.
Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekodjo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada Univesity Press, Yogyakarta (diterjemahkan oleh S. Darmadja)


Lampiran 1. Panduan Pertanyaan

1. Data Pribadi Responden

Nama :
Umur :
Pendidikan :
Nama suami :
Jumlah anggota keluarga :
Pekerjaan suami :
Pekerjaan istri :
Pengalaman beternak :
Produksi susu :
Jumlah ternak :

2. Daftar Pertanyaan

1. Berapa jumlah sapi yang dipelihara?
2. Darimana asal sapi diperoleh?
3. Kegiatan apa saja yang dilakukan perempuan/istri dalam usaha ternak sapi perah?
 Mencari rumput
 Memberi pakan dan minum
 Membersihkan kandang
 Memandikan ternak
 Mengobati ternak
 Memerah susu
 Memasarkan/menjual susu
 Mengolah hasil susu
 Membeli sapronak
 Mengawinkan ternak
4. Waktu yang dipergunakan untuk masing-masing kegiatan
 Mencari rumput
 Memberi pakan dan minum
 Membersihkan kandang
 Memandikan ternak
 Mengobati ternak
Lampiran 1. (Lanjutan)

 Memerah susu
 Memasarkan/menjual susu
 Mengolah hasil susu
 Membeli sapronak
 Mengawinkan ternak
5. Lokasi atau jarak yang ditempuh untuk masing-masing kegiatan
 Mencari rumput
 Memberi pakan dan minum
 Membersihkan kandang
 Memandikan ternak
 Mengobati ternak
 Memerah susu
 Memasarkan/menjual susu
 Mengolah hasil susu
 Membeli sapronak
 Mengawinkan ternak
6. Bagaimana akses perempuan dalam usaha pemeliharaan ternak sapi perah?
7. Bagaimana akses perempuan dalam penjualan/pemasaran susu?
8. Bagaimana akses perempuan dalam pengelolaan pendapatan?
9. Bagaimana akses perempuan dalam pengajuan kredit?
10. Bagaimana akses perempuan dalam pendidikan non formal serta pelatihan yang berkaitan dengan usaha ternak sapi perah
11. Bagaimana kontrol perempuan dalam usaha pemeliharaan ternak sapi perah?
12. Bagaimana kontrol perempuan dalam penjualan/pemasaran susu?
13. Bagaimana kontrol perempuan dalam pengelolaan pendapatan?
14. Bagaimana kontrol perempuan dalam pengajuan kredit?
15. Bagaimana kontrol perempuan dalam pendidikan non formal serta pelatihan yang berkaitan dengan usaha ternak sapi perah?
16. Faktor-faktor yang mempengaruhi peran perempuan dalam usaha ternak sapi perah
17. Data kebutuhan “needs assessment” perempuan usaha ternak sapi perah
18. Berapakah penerimaan yang diperoleh dari hasil usaha ternak sapi



Lampiran 2. Data Identitas Responden



No
Nama
Umur
(tahun)
Nama Suami
Pekerjaan Suami
Pendidikan Terakhir
Pekerjaan Pokok
Pekerjaaan Sambilan Pengalaman Beternak
(Tahun)
Jumlah Ternak
Jumlah Keluarga Produksi Susu
(Liter)
1 Sri Umiarsih 43 Untung Susilo Peternak SMEA Ibu Rumah Tangga Ternak 20 6 4 6
2 Tati Hartati 45 Sunarto Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 10 4 4 6
3 Umi Sayekti 31 Asqowi Swasta SLTA Ibu Rumah Tangga Ternak 10 3 5 8
4 Sutarimah 32 Warsono Buruh Tani SD Ibu Rumah Tangga Ternak 10 2 7 5
5 Sukamti 45 Samiyono Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 15 3 4 7
6 Widarti 30 Sukoco Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 10 4 4 8
7 Sumarsih 21 Marsudi Petani SLTP Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 10 2 4 8
8 Bardinah 48 Sukono Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 20 4 4 8
9 Sudarsih 41 Badrudin Petani SLTA Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 10 4 4 10
10 Sugiyem 60 Wiro S. Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 25 5 4 8
11 Sunarsih 49 Sukar Pensiunan SLTP Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 20 5 5 7
12 Giyarti 32 Rohadi Petani SLTP Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 25 4 4 8
13 Bardinah 45 Sutiyo Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 15 4 3 20
14 Siti Munjaroh 28 Wahyudi Penjaga SD SLTP Pedagang Ternak 4 4 3 5
15 Muah 59 Dirjo Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 25 4 5 7
16 Manirah 39 Bero Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 4 2 3 6
17 Suparti 38 Sumanto Pedagang SLTP Ibu Rumah Tangga Ternak 20 2 4 9
18 Suminem 40 Tejo Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 2 3 6 5
19 Suti 65 Tulus Harwanto Pensiunan SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 30 2 2 6
20 Giyarti 50 Achmadi Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak 20 5 6 5
21 Sri Supriyanti 43 Dritawanto Guru Sarjana Guru SD Ternak 5 2 3 5
22 Sri Yatmini 42 Suwarno Petani SLTP Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 20 3 5 6
23 Wartini 46 Slamet Martono Petani MI Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 5 2 6 5
24 Restuti Handayani 30 Sunarso Wiraswasta SLTA Ibu Rumah Tangga Ternak 2 15 3 5
25 Anita 20 Suratno Perangkat Desa SLTP Buruh Pabrik Ternak 30 3 3 3
26 Mutmainah 47 Ahsan Peternak SLTP Ibu Rumah Tangga Ternak 10 18 4 5
27 Sulami 38 Suji Peternak SLTA Ibu Rumah Tangga Ternak 10 11 4 6
28 Sri Mulyani 43 Hardoyo Guru Sarjana Ibu Rumah Tangga Ternak 5 3 3 5
29 Widarti 65 Suwito Petani SD Ibu Rumah Tangga TernakTani 20 2 3 6
30 Rodiyah 45 Tarso Petani SD Ibu Rumah Tangga Ternak,Tani 15 4 5 7













Lampiran 3. Hasil Wawancara Mendalam dan Tabulasi Data

1. Berapa jumlah sapi yang dipelihara ?

Jumlah sapi Peternak yang memelihara
2 ekor 8
3 ekor 6
4 ekor 8
5 ekor 3
6 ekor 1
>10 ekor 2

2. Darimana asal sapi ?

Asal Sapi Jumlah peternak Persentase
Milik pribadi 29 96,66
Gaduhan Peternak lain 1 3,33


“Statement perempuan peternak sapi perah

a. Milik pribadi

“…punya sendiri, kalau sapi perah digaduhkan ya rugi…” (Restuti, 30 tahun)

“…ya sapi punya sendiri, saya punya 6 ekor…” (Sri Umiarsih, 43 tahun)

“…sapinya milik pribadi, rata-rata peternak disini punya sapi semua, paling tidak mesti punya sapi satu…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)

b. Gaduhan

“…walah wong niki sapi digaduhke tiyang, gak punya sapi sendiri…” (Suti, 65 tahun)



Lampiran 3. (Lanjutan)

3. Kegiatan apa saja yang dilakukan perempuan/istri peternak dalam usaha beternak sapi perah ?

a. Mencari hijauan pakan ternak/rumput

 25 perempuan (83,33%) melakukan kegiatan mencari rumput.
 5 perempuan (16,66%) tidak melakukan kegiatan mencari rumput.
(Perempuan yang tidak melakukan kegiatan mencari rumput umumnya memiliki pekerjaan diluar rumah.

“Statement”

“…ngarite ting mriko mas lore mergi, wong kulo mboten gadhah suket piyambak, jarake mboten enten 1 kilo…” (Suminem, 40 tahun)

“…ya cari rumput yaa ibuke yaa bapake, wong loro cari semua, kalau gak cari rumput ya makannya kurang…kira-kira 1-1,5jam…” (Suti, 65 tahun)

“…saya kerja jadi saya cuma ngasih komboran aja pagi-pagi, kalau cari rumput biasanya nyuruh cari orang entar diupahi…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)

“…kegiatan mencari rumput biasanya bapak, tapi pernah sedikit-sedikit ngarit, kalau ngarit ing tegalan kira-kira satu jam-an…” (Giyarti, 32 tahun)

“…iya saya cari rumput, bapak juga…” (Wartini, 46 tahun)

“…ibu gak ikut cari rumput, dirumah aja…” (Sri Umiarsih, 43 tahun)

“…saya gak ikut cari rumput, saya cuma bantu ngasih makan sapinya aja, tapi kalau bapak lagi pergi ada urusan ya saya yang cari…” (Restuti, 30 tahun)

b. Memberi pakan dan minum ternak

 30 perempuan (100%) melakukan kegiatan memberi pakan dan minum.




Lampiran 3. (Lanjutan)

“Statement”

“…saya kan kerja mas, bapak juga kerja, kalau memberi pakan saya cuma pagi hari, kan gampang, cuma buat komboran. Kalau memberi pakan rumput entar siang setelah pulang kerja…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)
“…ngombor katul pohong, nek awan nggih ngombor, ngombore esuk awan…” (Suminem, 40 tahun)

“…ngasi rumput ya ibuk, ya bapak…” (Suti, 65 tahun)

c. Membersihkan kandang ternak

 19 perempuan (63,33%) melakukan kegiatan membersihkan kandang.
 11 perempuan (36,66%) tidak melakukan kegiatan membersihkan kandang.

“Statement”

“…jarang dibersihkan, kan lantainya masih tanah jadi cuma ditutupi alang-alang biar tidak becek, kalau sudah satu minggu baru dibersihkan…” (Wartini, 46 tahun)

“…kotoran dimasukkan kedalam lubang besar (digester), entar digunakan sebagai pembakaran, sebagai biogas…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)

“…kalo bersihin teleknya saya gak ikut, gak bisa…”( Suti, 65 tahun)

“…ngresiki kandang pendhak dino…” (Giyarti, 32 tahun)

“…nggih diresiki, mangke kagem ndamel rabuk…”Suminem, 40 tahun)

d. Memandikan ternak

 8 perempuan (26,66%) melakukan kegiatan memandikan ternak.
 22 perempuan (73,33%) tidak melakukan kegiatan memandikan ternak.




Lampiran 3. (Lanjutan)

“Statement”

“…Walah, lha wong sapine mboten pernah disirami, mung kandangipun diresiki amargi mangke teleke kangge damel rabuk…” (Suminem, 40 tahun)

“…Memandikan sapi jarang, paling cuma seminggu sekali sekitar satu jam…” (Giyarti, 32 tahun)

“…ternak jarang dimandikan entar malah masuk angin, sering-sering saja…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)

“…ternak mboten pernah dimandiin…” (Suti, 65 tahun)

“…ya dimandiin, seminggu sekali…” (Wartini, 46 tahun)

“…nggih pripun nggih mas, kulo mung macul ngarit, yen sapine kulo mboten nyirami…” (Suminem, 40 tahun)

e. Membeli sarana produksi ternak

 22 perempuan (73,33%) melakukan kegiatan membeli sapronak.
 8 perempuan (26,66%) tidak melakukan kegiatan membeli sapronak.

“Statement”

“…tumbas katul nggih sok kulo sok pak’e, nggih mboten mesti, tumbase ting pasar ampel…” (Suminem, 40 tahun)

“…gak pernah beli konsentrat, ya jarang konsentrat, nggak beli orang nggak punya uang. cuma dikasih singkong sama air. Ya kalo punya uang ? kalo nggak punya uang gimana ? darimana ?...” (Suti, 65 tahun)

“…ingkas tumbas”brand” bapak, tapi sok nggih kulo…” (Giyarti, 32 tahun)

“…ya beli konsentrat di pasar ampel…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)

f. Memerah susu, Memasarkan susu, dan Mengolah susu.


Lampiran 3. (Lanjutan)

 Tidak terdapat perempuan (0%) yang melakukan kegiatan memerah susu (susu diperah oleh petugas loper susu, sehingga kegiatan memasarkan susupun disetor oleh petugas loper susu ke KUD, sehingga tidak terdapat akses dalam kegiatan mengolah susu)

“Statement”

“…susu diperah loper susu…” (Giyarti, 32 tahun)

“…nggih susune dipundhut tiyang…” (Suminem, 40 tahun)

“…yang memerah susu ya pengepul, ntar dicatat berapa liter, kemudian tiap bulan kalau gak tiap minggu dimintai uang…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)

“…yang merah ada sendiri, ada tukangnya sendiri…” (Suti, 65 tahun)

g. Mengobati ternak dan Mengawinkan ternak

 Tidak terdapat perempuan (0%) yang melakukan kegiatan mengobati
ternak dan mengawinkan ternak
(apabila ternak sakit peternak langsung menghubungi mantri hewan, begitu pula dengan kegiatan mengawinkan ternak)

“Statement”

“...nggih diobati, tapi mboten diobati piyambak, umpami nglairke mboten lancar nggih diundangke mantri, asmane mantri Pak Karjo…” ( Suminem, 40 tahun)

“…ternak kalau sakit ya biasanya disuntik mantri sapi, membayar Rp.50.000 sekali suntikan…” (Suti, 65 tahun)

“…mengawinkan ternak sama mantri, kalau sakit ya yang mengobati mantri…” (Giyarti, 32 tahun)



Lampiran 3. (Lanjutan)

“…mengobati dan mengawinkan ternak sama mantri, ada juga yang mengawinkan sendiri pakai pejantan tapi jarang yang berhasil…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)

4. Lokasi Kegiatan Produktif

a. Mencari hijauan pakan ternak/rumput

Jarak <100m : 22 orang dan 1-3 km : 8 orang
Ketika mencari rumput bagi responden yang memiliki ladang hijauan sendiri mereka tidak perlu jauh-jauh mencari rumput ke tempat yang lain. Jarak antara rumah dengan ladang hanya beberapa meter. Bagi yang tidak memiliki ladang hijauan sendiri perempuan harus menempuh jarak yang relatif jauh 1 km hingga 3 km.
b. Memberi pakan dan minum ternak
c. Membersihkan kandang
d. Memandikan ternak
e. Memerah susu
f. Memasarkan susu
g. Mengolah susu
h. Mengobati ternak
i. Mengawinkan ternak
j. Membeli sapronak

Lampiran 4. Curahan Waktu Kerja Perempuan pada Kegiatan Produktif Usaha Sapi Perah


Curahan Waktu Kerja (menit/hari)
No Mencari Rumput
Memberi Pakan & Minum Membersihkan Kandang Memandikan Ternak Mengobati Ternak Memerah
Susu Memasarkan Susu Mengolah
Susu Membeli Sapronak Mengawinkan Ternak
1 60 60 0 0 0 0 0 0 0 0
2 120 60 30 60 0 0 0 0 60 0
3 60 20 30 0 0 0 0 0 60 0
4 60 40 30 0 0 0 0 0 60 0
5 60 15 30 0 0 0 0 0 90 0
6 60 20 60 0 0 0 0 0 30 0
7 60 40 30 0 0 0 0 0 60 0
8 70 40 0 0 0 0 0 0 30 0
9 90 40 0 0 0 0 0 0 30 0
10 120 40 50 0 0 0 0 0 60 0
11 90 30 0 0 0 0 0 0 60 0
12 50 40 30 0 0 0 0 0 30 0
13 60 20 30 0 0 0 0 0 0 0
14 60 60 0 0 0 0 0 0 60 0
15 60 40 15 0 0 0 0 0 0 0
16 60 30 30 30 0 0 0 0 0 0
17 60 40 30 0 0 0 0 0 30 0
18 0 10 0 0 0 0 0 0 0 0
19 0 60 0 0 0 0 0 0 0 0
20 60 15 60 30 0 0 0 0 60 0
21 60 30 0 0 0 0 0 0 30 0
22 60 15 30 0 0 0 0 0 30 0
23 0 10 0 0 0 0 0 0 30 0
24 60 30 60 0 0 0 0 0 60 0
25 60 30 60 0 0 0 0 0 30 0
26 0 30 0 30 0 0 0 0 0 0
27 0 30 0 30 0 0 0 0 0 0
28 60 15 30 20 0 0 0 0 90 0
29 90 30 45 30 0 0 0 0 120 0
30 90 30 60 20 0 0 0 0 120 0
Jml 1740 970 740 250 0 0 0 0 1230 0
Rata 58,00 32,33 24,66 8,33 0 0 0 0 41,00 0











Lampiran 5. Kuesioner Perilaku Perempuan

1. Variabel Pengetahuan
1.1. Bibit
1 Bangsa-bangsa sapi perah apa saja yang diketahui (Alternatif jawaban :
Friesian Holstein, Peranakan Friesian Holstein, Jersey, Guernsey, Brown
Swiss, Ayshire, Milking Shorthorn, Red Sindhi, Sahiwal, Australian
Milking Zebu)
a. Dapat menyebur 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
2 Dalam memilih bibit sapi perah apa perlu diperhatikan (Alternatif jawaban :
umur, asal usul ternak, kesehatan ternak, jenis ternak, bentuk tubuh,
jumlah putting sehat)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
3. Menurut ibu bagaiamana ciri-ciri sapi perah yang baik? (Alternatif
jawaban : bentuk tubuh segi tiga, tenang dan jinak, lebar dan lurus,
ambing sempurna, vena menonjol,puting susu normal)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
Lampiran 5. (Lanjutan)

e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
4. Dari mana memperoleh bibit yang baik (dari peternak yang
mempunyai sapi perah yang baik, membeli dari pasar hewan,
melalui koperasi unit desa, dari pusat pembibitan sapi perah, import
bibit dari luar negeri)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
1.2. Pakan
1. Pakan hijauan ternak merupakan? (Alternatif jawaban : bahan pakan pokok
ternak, terdiri dari pakan hijauan, memiliki kandungan protein dan mineral
yang dibutuhkan ternak, diberikan secara teratur, hijauan yang dikeringkan,
bahan tambahan selain hijauan)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
2. Jenis pakan hijauan sapi perah? (Alternatif jawaban : rumput gajah, rumput
raja (king grass), rumput lapang, pucuk tebu, jerami padi, jerami jagung,
jerami kedelai, daun singkong)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
Lampiran 5. (Lanjutan)

d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
3. Pakan hijauan yang baik untuk sapi perah? (alternatif jawaban : masih
segar, cukup kuantitasnya, baik kualitasnya, mudah memperolehnya, hijauan yang telah melalui proses fermentasi)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
4. Pemberian hijauan untuk sapi perah yang baik? (Alternatif jawaban : sehari
dua kali, hijauan dipotong-potong, dilayukan dahulu, diberikan pada
tempatnya, sisa hijauan dibersihkan)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
1.3. Perkandangan
1. Kandang yang baik seharusnya? (Alternatif jawaban : memperoleh sinar
matahari yang cukup, terdapat ventilasi yang cukup, alas dari semen,
memberi keamanan dan kenyamanan ternak, mudah dibersihkan,
awet pemakaiannya, murah membuatnya, terpisah dari rumah tinggal).
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban

Lampiran 5. (Lanjutan)

c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
2. Jenis-jenis kandang sapi perah yang diketahui? (Alternatif jawaban :
umbaran, kandang individual, kandang komunal, kandang head to head,
kandang tail to tail, kandang campuran, karantina pejantan, kandang kawin)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
3. Kandang yang efektif dan efisien adalah? (Alternatif jawaban :
memanfaatkan bahan yang tersedia, awet, murah, bahan baku mudah
diperoleh, tidak lekas lapuk, tidak menjadi satu dengan rumah tempat
tinggal, tidak mempersulit menjalankan pekerjaan)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
4. Manfaat kandang sapi perah? (Alternatif jawaban : sebagai tempat istirahat,
tempat memberi keamanan ternak, tempat memberi kenyamanan ternak,
tempat untuk berproduksi, tempat memberi pakan dan minum yang
teratur, sebagai lokasi manajemen yang sederhana)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
Lampiran 5. (Lanjutan)

d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
1.4. Pencegahan Penyakit
1. Jenis penyakit yang sering menyerang sapi perah? (Alternatif jawaban :
mastitis, mulut dan kuku, kembung, milkfever, cacing )
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
2. Perlakuan agar sapi perah tetap sehat? (Alternatif jawaban : dimandikan
setiap hari, kandang dibersihkan dari kotoran, kotoran dikumpulan dalam
satu tempat, kualitas dan kuantitas air minum yang cukup dan baik, segera
lapor petugas apabila sapi sakit)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
3. Penyebab sapi perah tidak sehat? (Alternatif jawaban : kandang tidak
higiens, pemberian pakan seadanya, air minum kurang bersih, tidak
pernah dimandikan, populasi ternak terlalu padat, diberi rumput basah, ada
wabah anthrax)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
Lampiran 5. (Lanjutan)

d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
4. Perlakuan terhadap sapi perah yang sakit? (alternatif jawaban : segera
diobati, lapor ke petugas kesehatan ternak, tidak dicampur dengan sapi
perah yang sehat, pemberian pakan dan minum disendirikan, dirawat dengan baik)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
1.5. Pengelolaan Reproduksi
1. Umur berapa sapi perah dikawinkan pertama kali?
a. > 34 bulan
b. 29 – 34 bulan
c. 23-28 bulan
d. 18 – 22 bulan
e. < 18 bulan
2. Sebaiknya kapan waktu yang tepat untuk mengawinkan sapi perah?
a. awal birahi
b. saat birahi langsung dikawinkan
c. kurang dari 18 jam dari mulai birahi
d. lebih dari 20 jam dari mulai bieahi
e. 18 – 20 jam dari mulai birahi
3. Bagaimana tanda perkawinan yang berhasil? (Alternatif jawaban : tidak ada
tanda birahi pada siklus berikutnya, nafsu makan tinggi, tenang, perut
Lampiran 5. (Lanjutan)

sebelah kanan membesar)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
4. Kapan sebaiknya sapi perah yang habis beranak dikawinkan lagi?
a. lebih dari 5 bulan
b. 4,5 – 5 bulan
c. 3,5 – 4 bulan
d. 2,5 – 3 bulan
e. 2 – 2,5 bulan
1.6. Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran
1. Hasil apa saja yang ibu ketahui yang dapat dijual dari usaha
ternak sapi perah? (alternative jawaban : susu segar, pedet, sapi afkir,
kotoran untuk dibuat pupuk, hasil olahan susu untuk dibuat krupuk
susu, yogurt)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
2. Pasca panen yang diterapkan oleh peternak sapi perah?
a. Pemerahan susu
b. Pengumpulan susu
c. Pemprosesan awal susu
Lampiran 5. (Lanjutan)

d. Pembuatan produk lain dari susu
e. Penjualan produk lain dari susu
3. Pola pemasaran produk?( dijual langsung, dijual ke pengepul, dijual
ke blantik, dijual melalui agen, dijual langsung ke IPS)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
4. Harga susu ditentukan oleh?(kualitas susu, IPS, peternak sendiri,
konsumen, pasar)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
1.7. Manajemen Usaha
1. Dalam beternak sapi perah, pencatatan (recording) apa saja yang harus
dilakukan? (Alternatif jawaban : produksi susu, kelahiran, perkawinan, silsilah
sapi perah, identitas ternak, kesehatan)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
2. Pengelolaan atau manajemen untuk sapi perah? (pemberian pakan,
Lampiran 5. (Lanjutan)

perkandangan, perkawinan, pemerahan susu, pemasaran hasil,
recording, kesehatan)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
3. Manfaat pengelolaan sapi perah? (sapi tetap sehat, produksi susu
banyak, kualitas susu baik, kesesuaian pengaturan kering kandang,
pengaturan perkawinan, pengaturan bunting dan beranak, masa laktasi panjang)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
4. Pengelolaan anak sapi dan dara yang baik? (kandang disendirikan,
kualitas dan kuantitas pakan sesuai dengan pertumbuhan, kesehatan
ternak, sering dimandikan, menjaga kebersihan lingkungan)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban



Lampiran 5. (Lanjutan)

2. Variabel Sikap
2.1. Bibit
1. Bagaimana pendapat ibu jika bibit sapi perah yang dipelihara adalah

bangsa sapi unggul?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
2. Pusat pembibitan sapi perah merupakan tempat untuk memperoleh bibit sapi
perah yang baik?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
3. Umur bibit sapi perah sebaiknya antara 1 – 2 tahun?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
4. Bibit sapi perah harus dikelola secara terpisah dengan sapi dewasa?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
Lampiran 5. (Lanjutan)

d. Setuju
e. Sangat setuju

2.2. Pakan

1. Pakan hijauan diberikan dua kali sehari?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
2. Pakan hijauan yang paling baik adalah rumput gajah (kolonjono)?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
3. Pakan untuk ternak sapi perah dibedakan antara pedet, dara dan dewasa
(laktasi)?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
4. Makanan tambahan (konsentrat) harus diberikan pada sapi perah laktasi?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
Lampiran 5. (Lanjutan)

d. Setuju
e. Sangat setuju
2.3. Perkandangan
1. Kandang yang baik seharusnya terbuat dari bahan yang mahal?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
2. Manfaat kandang adalah untuk memberi keamanan dan kenyamanan
sapi perah?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
3. Sapi perah sebaiknya dikandangkan dengan sistem komunal?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju

4. Setiap anggota untuk menggunakan kandang komunal dibatasi jumlah
sapi laktasinya?
a. Sangat tidak setuju
Lampiran 5. (Lanjutan)

b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju

2.4. Pencegahan Penyakit
1. Keadaan lingkungan harus selalu bersih?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
2. Sapi perah harus selalu diperiksa kesehatannya minimum sebulan sekali
oleh mantri hewan?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
3. Sapi perah yang sakit harus disendirikan?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
4. Kotoran yang menumpuk disekitar kandang merupakan sumber penyakit
sapi perah?
Lampiran 5. (Lanjutan)

a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju

2.5. Pengelolaan Reproduksi
1. Bagaimana pendapat ibu jika waktu mengawinkan sapi yang tepat pada
saat birahi adalah jika birahi pagi, maka siang/ sore dikawinkan dan jika
birahi sore, maka paginya dikawinkan?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
2. Bagaimana pendapat ibu jika sapi perah setelah beranak dikawinkan
lagi 2 – 2,5 bulan setelah beranak?
a. Sangat tidak setuju
a. Tidak setuju
b. Kurang setuju
c. Setuju
d. Sangat setuju
3. Bagaimana pendapat ibu jika tanda perkawinan berhasil pada ternak
adalah tidak terdapat tanda birahi pada siklus berikutnya, ambing kelihatan
turun, putting sebelah kanan tampak membesar?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
Lampiran 5. (Lanjutan)

c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
4. Bagaimana pendapat ibu jika sapi perah yang sakit menular tidak boleh
dijual atau diperah susunya?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
2.6. Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran
1. Pasca panen sangat menentukan keberhasilan usahatani ternak sapi perah?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
2. Pasca panen adalah proses lebih lanjut produk yang dihasilkan oleh sapi perah?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
3. Pemasaran susu sebaiknya ditangani langsung oleh pengurus KTT sapi perah?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
Lampiran 5. (Lanjutan)

c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
4. Pola pemasaran susu sapi perah mengikuti pola dari peternak ke pengepul?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju

2.7. Manajemen Usaha

1. Catatan harian (recording) merupakan salah satu yang harus dilakukan
dalam beternak sapi perah?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
2. Setiap anggota KTT harus memiliki catatan (recording) terhadap sapi perahnya?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju
3. Menurut ibu, apakah data hasil pencatatan tersebut harus dievaluasi
untuk mngadakan penilaian terhadap perkembangan usaha ternaknya?
a.Sangat tidak setuju
Lampiran 5. (Lanjutan)

b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
a. Sangat setuju
4.Menurut ibu, apakah secara umum pekerjaan dalam pemeliharaan sapi
perah meliputi membersihkan kandang, memberi pakan dan minum,
menjaga kesehatan ternak, mengawinkan ternak, memandikan ternak dan
menyikat tubuh?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Kurang setuju
d. Setuju
e. Sangat setuju

3.Variabel Ketrampilan
3.1. Bibit
1. Ciri-ciri fisik bibit sapi perah yang dipelihara adalah?
a. Kulit berwarna hitam putih atau merah putih
b. Pinggul lebar dan kuat
c. Mata cerah, kulit mengkilap, sehat
d. Memiliki ambing besar dengan empat putting susu
e. Menyebutkan kesemuanya (1-4)
2. Bibit sapi perah dapat diperoleh melalui?
a. Membeli kesembarang peternak sapi perah
b. Membeli ke pasar hewan
c. Membeli ke peternak yang berhasil
d. Membeli melalui dinas peternakan
Lampiran 5. (Lanjutan)

e. Membeli ke pusat pembibitan sapi perah
3. Pemilihan bibit sapi perah dilakukan dengan memperhatikan?
a. Peternak yang memiliki bibit
b. Lokasi pembelian
c. Asal usulnya
d. Jenisnya
e. Keseluruhannya (no 1-4)
4. Bibit sapi perah dikelola dengan cara?
a. Tidak dipelihara dengan baik
b. Dikandangkan bersama-sama dengan sapi dewasa
c. Dikandangkan sendiri, pakan dan konsentrat sama dengan dewasa
d. Dikandangkan bersama-sama, pakan dan konsentrat dibedakan
e. Dikandangkan sendiri, pakan dan konsentrat berbeda
3.2. Pakan
1. Pakan sapi perah yang bergizi ditandai dengan?
a. Rumput lapang yang berwarna hijau
b. Berbagai jenis jerami yang sudah difermentasi
c. Rumput pakan dan konsentrat seimbang
d. Jerami yang diproses lebih lanjut dan konsentrat yang seimbang
e. Semuanya
2. Jenis-jenis rumput sebagai pakan yang baik adalah?
a. Jerami padi, jagung, kedelai, daun singkong
b. Rumput ladang
c. Rumput gajah
d. King grass
e. Semuanya
Lampiran 5. (Lanjutan)

3. Perbandingan rumput hijauan dengan konsentrat yang baik adalah?
a. Rumput 10, konsentrat 90
b. Rumput 20, konsentrat 80
c. Rumput 25, konsentrat 75
d. Rumput 60, konsentrat 40
e. Rumput 70, konsentrat 30
4. Bentuk pakan sapi perah yang baik adalah?
a. Jerami padi, jagung, kedelai, dain singkong
b. Rumput lapang tanpa diproses langsung
c. Rumput lapang yang dipotong-potong
d. Rumput gajah/king grass tanpa diproses lanjut
e. Rumput dan jerami yang diproses lebih lanjut dengan tambahan
vitamin, protein, mineral
3.3. Perkandangan
1. Kandang yang baik mengikuti kaidah-kaidah?
a. Menghadap ke timur
b. Terbuat dari lantai semen
c. Memiliki sirkulasi udara yang baik
d. Memiliki pencahayaan sinar matahari yang cukup
e. Memiliki kesemuanya (1-4) dan terdapat saluran pembuangan
2. Kandang dinyatakan kuat dan baik apabila?
a. Terbuat dari bahan seadanya
b. Terbuat dari kayu yang kuat
c. Terbuat dari kayu dicampur dengan batu bata
d. Terbuat dari batu bata dan disemen (permanen)
e. Permanen dengan adanya saluran pembuangan limbah
Lampiran 5. (Lanjutan)

3. Kandang sebaiknya diletakkan di?
a. Dalam rumah
b. Di halaman depan rumah tempat tinggal
c. Di dalam rumah bagian belakang
d. Menempel rumah tempat tinggal
e. Luar rumah (khusus) tetapi tidak begitu jauh
4. Pembersihan kandang dilakukan berapa kali dalam sehari?
a. Tidak pernah dibersihkan
b. Tidak tentu
c. Jika sudah kotor
d. Satu kali sehari
e. Dua kali sehari
3.4. Pencegahan Penyakit
1. Kesehatan ternak sapi perah laktasi yang harus diperhatikan adalah?
a. Kandangnya
b. Lingkungannya
c. Pakan dan minumnya
d. Kondisi fisik dan reproduksinya
e. Semuanya (1-4)
2. Sapi perah yang sakit seharusnya?
a. Dicampur dengan sapi perah lainnya
b. Diobati seadanya
c. Diobati, pakan dan minumnya disendirikan
d. Diobati, disendirikan, pakan dan minum tidak dibedakan
e. Diobati, disendirikan, dirawat dengan baik pakan dan minum dibedakan
dengan sapi sehat
Lampiran 5. (Lanjutan)

3. Tanda-tanda sapi perah sakit?
a. Tidak mau makan
b. Tidak mau makan dan minum
c. Tidak bergairah dan lesu
d. Kelihatan pucat, mata tidak bersinar, bulu kusam
e. Semuanya (1-4)
4. Kotoran ternak adalah sumber penyakit, yang harus dilakukan?
a. Menumpuk pada satu tempat
b. Mengumpulkan dalam lubang
c. Menjual setelah terkumpul banyak
d. Memproses lebih lanjut menjadi kompos
e. Dijual dan dipakai sendiri apabila sudah menjadi kompos
3.5. Pengelolaan Reproduksi
1. Umur berapa sapi perah bapak pertama kali dikawinkan/
a. 2,5 – 3 tahun lebih
b. 26 – 29 bulan
c. 23 – 25 bulan
d. 20 bulan
e. 16 – 18 bulan
2. Bagaimana ibu mengetahui bahwa ternak setelah dikawinkan
benar-benar bunting? (Alternatif jawaban : tidak birahi pada siklus berikutnya,
nafsu makan baik, tenag, perut sebelah kanan membesar)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
Lampiran 5. (Lanjutan)

e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
3. Kapan ibu biasanya mengawinkan sapi perah?
a. Lebih dari 24 jam setelah birahi
b. Akhir birahi
c. Pertengahan birahi
d. 3 – 4 jam awal birahi
e. Waktu diketahui birahi
4. Kapan sapi perah dikawinkan lagi setelah beranak?
a. > 5 bulan
b. 4,5 - 5 bulan
c. 3,5 - 4 bulan
d. 2,5 - 3 bulan
e. 2 – 2,5 bulan
3.6. Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran
1. Hasil budidaya sapi perah yang diperoleh adalah?
a. Tenaga kerja sapi perah
b. Kotoran dan kencing
c. b + daging, kulit
d. c + susu
e. d + produk olahan susu
2. Bagaimana usaha yang ibu lakukan supaya sapi berproduksi baik? (pengaturan pemberian pakan yang baik, pemberian minum baik, perawatan kesehatan, sanitasi kandang, pemerahan dengan baik)
a. Dapat menyebut 1 alternatif jawaban
b. Dapat menyebut 2 alternatif jawaban
c. Dapat menyebut 3 alternatif jawaban
Lampiran 5. (Lanjutan)

d. Dapat menyebut 4 alternatif jawaban
e. Dapat menyebut lebih dari 4 alternatif jawaban
3. Ketrampilan dalam kegiatan pemasaran bibit sapi perah?
a. Mengetahui pasar hewan
b. Menetahui jenis sapi perah sebagai bibit
c. Menguasai pola-pola pemasaran bibit sapi perah
d. Menguasai dan menaksir harga pasar bibit sapi perah
e. Semuanya (1-4)
4. Manfaat ketrampilan dalam kegiatan pemasaran sapi perah dan produknya?
a. Pengetahuan bertambah
b. Mampu menentukan harga jual
c. Mampu menentukan pelanggan
d. Mampu menentukan produk dan harga jualnya
e. Mampu menentukan produk, harga jual dan penanganan
3.7. Manajemen Usaha
1. Apa saja yang harus dilakukan dalam pengelolaan sapi perah?
a. Memelihara sebagaimana adanya
b. Memelihara sesuai dengan petunjuk dinas atau penyuluh
c. Menanyakan tentang pemeliharaan kepada penyuluh
d. Masuk mennjadi anggota kelompok dan ikut penyuluhan
e. Mengikuti kegiatan dalam kelompok dan berperan aktif
2. Apakah ibu dalam beternak sudah melakukan pencatatan (recording) pada
sapi perah?
a. Baru sekali melakukan pencatatan
b. Jarang melakukan pencatatan
c. Kadang melakukan pencatatan
Lampiran 5. (Lanjutan)

d. Sering melakukan pencatatan
e. Selalu melakukan pencatatan
3. Produk susu yang dihasilkan sebaiknya?
a. Susu tidak ditambah dengan air
b. Disaring hasil perahannya
c. Ditempatkan pada tempat penampungan yang sehat
d. Dijaga agar tidak rusak, kumannya dijaga agar tidak berkembang
e. Semuanya (no 1-4)
4. Bentuk pengelolaan sapi perah yang di anggap baik?
a. Dikelola sendiri
b. Dikelola dalam kandang komunal tetapi pemberian pakan sendiri
c. Dikelola bersama dalam kandang komunal, pakan bersama
d. Dikelola dalam kandang komunal dan masuk menjadi anggota KTT
e. Dikelola dalam kandang komunal, segala kegiatan dilakukan
bersama dengan adanya pembagian tugas












Lampiran 6. Data Perilaku Perempuan
Perilaku Perempuan/ Istri Peternak

NO Pengetahuan Sikap Ketrampilan Total Perilaku
Skor Kategori Skor Kategori Skor Kategori Skor Kategori
Giyarti 97 Baik 112 Baik 130 Sangat Baik 339 Baik
Bardinah 110 Baik 115 Baik 111 Baik 336 Baik
Sumarsih 109 Baik 111 Baik 128 Sangat Baik 348 Baik
Manirah 88 Cukup 113 Baik 134 Baik 315 Baik
Siti Munjaroh 90 Cukup 109 Baik 127 Sangat Baik 326 Baik
Bardinah 103 Baik 100 Baik 124 Sangat Baik 327 Baik
Sugiyem 119 Baik 108 Baik 130 Sangat Baik 357 Sangat Baik
Sudarsih 102 Baik 105 Baik 130 Sangat Baik 337 Baik
Widarti 90 Cukup 99 Baik 115 Baik 304 Baik
Sukamti 112 Baik 117 Baik 125 Sangat Baik 354 Baik
Muah 97 Baik 113 Baik 126 Sangat Baik 336 Baik
Anita 80 Baik 111 Baik 102 Baik 293 Baik
Sutarimah 63 Kurang 99 Baik 104 Baik 266 Cukup
Tati Hartati 98 Baik 107 Baik 126 Sangat Baik 331 Baik
Umi Sayekti 108 Baik 103 Baik 130 Sangat Baik 341 Baik
Sunarsih 124 Sangat Baik 107 Baik 130 Sangat Baik 361 Sangat Baik
Sri Umiarsih 71 Kurang 105 Baik 86 Cukup 262 Cukup
Wartini 100 Baik 102 Baik 103 Baik 305 Baik
Sri Supriyanti 125 Sangat Baik 120 Sangat Baik 135 Sangat Baik 380 Sangat Baik
Sri Yatmini 101 Baik 107 Baik 124 Sangat Baik 332 Baik
Suti 110 Baik 115 Baik 120 Sangat Baik 345 Baik
Restuti H. 97 Baik 115 Baik 119 Baik 331 Baik
Giyarti 102 Baik 106 Baik 125 Sangat Baik 333 Baik
Suparti 100 Baik 108 Baik 120 Sangat Baik 328 Baik
Widarti 105 Baik 108 Baik 111 Baik 324 Baik
Suminem 95 Cukup 100 Baik 115 Baik 311 Baik
Sri Mulyani 117 Baik 110 Baik 125 Sangat Baik 357 Baik
Sulami 120 Sangat Baik 115 Baik 128 Sangat Baik 363 Sangat Baik
Mutmainah 95 Cukup 109 Baik 115 Baik 319 Baik
Rodiyah 113 Baik 118 Baik 124 Sangat Baik 355 Baik









Lampiran 7. Akses dan Kontrol Perempuan dalam Usaha Ternak Sapi Perah


Sumber Daya

NO Pemelihaaran
Ternak Pemasaran
Susu Pengelolaan Pendapatan Pengajuan Kredit Penyuluhan
Akses Kontrol Akses Kontrol Akses Kontrol Akses Kontrol Akses Kontrol
1 T T R R T T R R T T
2 T T R R T T R R T T
3 T T R R T T R R T R
4 T T R R T T R R T R
5 T T R R T T R R T R
6 T T R R T T R R T T
7 T T R R T T R R T R
8 T T R R T T R R T R
9 T T R R T T R R T T
10 T T R R T T R R T T
11 T T R R T T R R T R
12 T T R R T T R R T R
13 T T R R T T R R T T
14 R R R R T R R R T R
15 T T R R T T R R T T
16 T T R R T T R R T R
17 T T R R T T R R T T
18 T T R R T T R R T R
19 T T R R R R R R T T
20 T T R R T T R R T R
21 R R R R T T R R T R
22 T T R R T T R R T R
23 T T R R T T R R T R
24 T T R R T T R R T T
25 R R R R T T R R R R
26 T T R R T T R R T T
27 T T R R T T R R T T
28 T T R R T T R R T R
29 T T R R T T R R T T
30 T T R R T T R R T R
T 90% 90% 0% 0% 96,66% 93,33% 0% 0% 96,66% 43,33%
R 10% 10% 100% 100% 33,3% 6,66% 100% 100% 3,33% 56,66%
Keteranagan :

T = mempunyai akses dan kontrol yang tinggi dalam sumber daya
R = mempunyai akses dan kontrol yang rendah dalam sumber





Lampiran 8. Needs Assesment Perempuan dalam Usaha Ternak Sapi Perah


1. Kegiatan rutim seperti KWT dan Gapoktan lebih ditingkatkan keikutsertaanya.
Peran serta perempuan dalam mengikuti penyuluhan dalam kegiatan rutin KWT dan Gapoktan mengenai beternak sapi perah agar dituntut lebih aktif untuk meningkatkan ketrampilan mereka.
“…pelatihan dan penyuluhan gak ada, tapi pengarahan dari mantri sapi tentang penyakit ada…” (Giyarti, 32 tahun)

“…gak pernah ikut penyuluhan, bapak juga gak ikut, yang ikut cuma yang KUD aja…” (Suti, 65 tahun)

2. Harga susu lebih tinggi
Biaya membeli pakan bisa sesuai dan harga susu bisa lebih tinggi sehingga bisa menutup biaya operasional dalam pemeliharaan sapi perah.

“…harga susu rendah, kalau diuangkan harga rumput juga mahal, harga katul mahal, kalau dikalkulasi harga buat membayar tenaga kerja juga mahal, kecuali kalau ditangani sendiri, ya intinya biaya opersionalnya tidak sesuai, harga sapi juga rendah…” (Sri Supriyanti, 43 tahun)


3. Harga sapi lebih tinggi.
Harga ternak apabila suatu saat akan dijual bisa tinggi, dikarenakan dengan adanya sapi impor dari Australia menyebabkan harga sapi lokal yang dijual oleh peternak menjadi lebih murah.
4. Mendapatkan pengetahuan cara beternak sapi perah melalui buku-buku praktis peternakan bagi para perempuan. Hal ini bisa dilakukan karena sebagaian

Lampiran 8. (Lanjutan)

perempuan sudah pernah mengenyam pendidikan minimal sekolah dasar dan paling tidak mereka bisa membaca.


RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Semarang pada tanggal 26 Agustus 1988, anak pertama dari Bapak Soeparno dan Ibu Nuraini. Pendidikan Sekolah Dasar diselesaikan di SD Negeri Petompon 567 Semarang tahun 1994-2000, pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Kesatrian 01 Semarang tahun 2000-2003 dan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 01 Semarang tahun 2003-2006 pada Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.
Pada tahun 2006 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Penulis berhasil mempertahankan Laporan Praktek Kerja Lapangan yang berjudul “Pelaksanaan Distribusi Pemasaran pada Balai Inseminasi Buatan (BIB) Sidomulyo Provinsi Jawa Tengah”. Sampai saat ini penulis masih terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Strata 1 Sosial Ekonomi Peternakan Fakultas Peternakan
.